• 19 August 2022

Mengenal si Raksasa, Mamey Sapote

uploads/news/2020/10/mengenal-si-raksasa-mamey-48172e5ce905d89.jpg

Nanti kalau sudah matang, dia memiliki panjang sekitar 20 sentimeter dan berdiameter 30 dengan berat 1 sampai 3 kilogram.”

BOGOR - Siapa yang tidak mengenal sawo?

Ya, buah yang memiliki rasa manis ini banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia.

Ternyata ada banyak manfaat sawo bagi kesehatan tubuh di balik cita rasanya yang manis.

Baca juga: Budidaya Wasabi di Kota Bogor

Seperti menurunkan kadar gula darah dan menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Namun, pernahkah Sahabat Tani mendengar buah bernama mamey sapote?

Mamey sapote merupakan sawo raksasa yang berasal dari Amerika Tengah.

Buah ini juga sudah cukup banyak dibudidayakan di beberapa negara termasuk di Indonesia.

Sahabat Tani juga bisa menemukan buah raksasa ini jika berkunjung ke Kuntum Farm Field, Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Di sini ada buah yang jarang orang tahu. Namanya mamey sapote, itu masuk ke dalam jenis sawo, tetapi kalau dibelah dalamnya itu seperti pepaya, rasanya manis banget,” ujar Suyanto, pendiri Kuntum Farm Field.

Namun, untuk menunggu mamey sapote matang, perlu banyak waktu yang diperlukan.

Dari mulai pembibitan hingga pohon tersebut tumbuh setinggi sekitar sepuluh meter lalu berbuah, dibutuhkan waktu sekitar empat tahun.

Biasanya disebutnya kalau di Indonesia itu sawo raksasa, tapi nama aslinya ya mamey sapote. Nanti kalau sudah matang, dia memiliki panjang sekitar 20 sentimeter dan berdiameter 30 dengan berat 1 sampai 3 kilogram,” sebutnya.

Buah ini juga memiliki keunikan dan berbeda dengan sawo lokal.

Pada mamey sapote, hanya terdapat satu biji sawo di tengah buahnya. Suyanto juga menyebut, daging buah mamey sapote tampak berwarna oranye kemerahan, tidak sama dengan sawo lokal yang berwarna cokelat.

Baca juga: Daun Stevia, Tanaman Pengganti Gula

Tetapi, buah yang cukup sulit dibudidayakan tersebut masih menjadi buah yang langka dan susah ditemukan di Indonesia.

Pasalnya, Suyanto menyebut, dari pohon tersebut mulai berbunga hingga berbuah dan siap dipanen, memerlukan waktu sekitar 10 bulan.

Hal itulah yang menyebabkan buah ini jarang sekali ditemukan di pasaran.

Related News