• 6 October 2022

Delima, Buah Tertua di Dunia

uploads/news/2020/11/delima-buah-tertua-di-90967da8e9f5e6b.jpg

Tanaman delima umumnya masih dibudidayakan secara sederhana dalam pekarangan dan tidak dalam skala besar, sehingga potensi pengembangan secara lebih komersial masih sangat luas.”

JAKARTA - Pernahkah Sahabat Tani memakan buah delima?

Jika belum, cobalah untuk memakannya.

Sahabat Tani akan merasakan sensasi manis bercampur asam dalam daging buahnya.

Tapi tahukah Sahabat Tani, jika delima (P. granatum L.) merupakan jenis buah-buahan (edible fruit) tertua yang pernah ditemukan.

Baca juga: Konsumsi Mangga untuk Cegah Kanker

Menurut jurnal yang dikeluarkan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian (Kementan), delima merupakan salah satu buah yang telah lama dikenal seiring dengan perkembangan peradaban manusia, terutama pada daerah-daerah beriklim agak kering hingga kering.

Namun demikian, tanaman ini juga dapat tumbuh di daratan berhawa sejuk hingga sangat panas.

Beberapa penelitian juga menunjukkan, delima juga toleran pada tanah dengan kadar salinitas tinggi, namun tidak tahan dengan penurunan suhu hingga di bawah minus 110 derajat celsius,” tulis Balitjestro dalam keterangannya.

Delima diperikirakan berasal dari daratan Persia dan daerah sekitarnya.

Spesies-spesies liarnya banyak tumbuh alami di daerah Transcaucasia dan Asia Tengah seperti Iran, Turkmenistan hingga bagian utara India.

Setidaknya terdapat tiga pusat diversitas genetik (primer, sekunder dan tersier) serta lima daerah penyebaran utama (Timur Tengah, Mediterania, Asia Timur, Amerika dan Afrika Selatan).

Selain itu, terdapat pusat diversitas primer di Timur Tengah yang mencakup Iran, Afganistan, dan daerah sekitarnya.

Pusat penyebaran dan diversitas sekunder mencakup wilayah Mediterania dan Asia Timur yang merupakan pintu penyebaran ke arah Asia dan Eropa.

Wilayah pusat diversitas tersier mencakup wilayah-wilayah di mana spesies delima didomestikasi atau dinaturalisasi maupun diintroduksi,” sebutnya.

Delima sendiri dapat tumbuh di berbagai tipe tanah, kecuali pada tanah-tanah dengan pH terlalu tinggi atau tanah salin.

Tanaman delima juga menghendaki tanah dengan drainase baik dan tidak telalu padat untuk perkembangan akar yang optimal.

Delima umumnya diperbanyak melalui biji, pemisahan anakan maupun pembiakan vegetatif lain seperti cangkok dan setek batang,” ujarnya.

Tanaman muda hasil perbanyakan, umumnya dipelihara dulu di dalam wadah tunggal atau polybag selama dua hingga tiga bulan sebelum ditanam di tanah lapang.

Delima umumnya disajikan dalam bentuk buah segar maupun minuman.

Buah ini juga mempunyai kandungan senyawa kimia yang beragam dan berguna untuk pengobatan dan kesehatan manusia.

Buah yang sudah masak mengandung sejumlah asam organik seperti asam sitrat, malat, oksalat, asetat, fumarat, tartarat dan laktat dan gula seperti glukosa, fruktosa, sukrosa dan maltosa,” sebutnya.

Buah delima juga dideteksi mengandung senyawa antioksidan seperti kelompok senyawa ellagiatannin dan gallotannin, asam ellagik dan derivatnya, catecin dan procyanidin, kelompok antocyanin dan antocyanidin, serta kelompok fenolik seperti asam benzene dekarbosilat, asam benzoate, asam propinonat,” tambahnya.

Delima sendiri banyak diusahakan di daerah-daerah yang dekat dengan pusat penyebaran utamanya.

Sekitar 90% lahan delima berada di Asia dan Eropa, 9% di Afrika Utara, dan sekitar 1% di wilayah Amerika Utara.

Baca juga: Kiwi Bantu atasi Sembelit Kronis

Spanyol sendiri merupakan negara produsen delima terbesar dengan kapasitas lebih dari 22.000 ton, disusul Amerika Serikat dengan kapasitas produksi sekitar 20.000 ton.

Menurut Balitjestro, hingga kini belum terdapat data yang akurat perihal luasan tanam dan panen tanaman delima di Indonesia.

Tanaman delima umumnya masih dibudidayakan secara sederhana dalam pekarangan dan tidak dalam skala besar, sehingga potensi pengembangan secara lebih komersial masih sangat luas,” tutupnya.

Related News