• 15 June 2024

Turunnya Minat Profesi Petani Milenial

uploads/news/2021/04/turunnya-minat-profesi-petani-44706f73659e819.jpg

"Perlu ada upaya serius untuk mendorong generasi milenial atau generasi muda agar mau bekerja pada sektor pertanian. Pertanian bukan hanya untuk orang-orang yang bekerja untuk usia lanjut, melainkan perlu adanya generasi dari kaum milenial"

JAKARTA - Pangan menjadi kebutuhan dasar setiap penduduk. Produksi pangan tergantung ada di tangan para petani. Meskipun Indonesia dikenal sebagai negara agraris, mirisnya jumlah petani di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat semakin berkurangnya minat terhadap profesi petani. Banyak petani yang memilih alih profesi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menilai perlu ada upaya serius untuk mendorong generasi milenial atau generasi muda agar mau bekerja pada sektor pertanian. Pertanian bukan hanya untuk orang-orang yang bekerja untuk usia lanjut, melainkan perlu adanya generasi dari orang-orang berikutnya yang masih segar, yaitu generasi milenial.

Baca Juga: Dorong Milenial Garap Pertanian Daerah

Berdasarkan kelompok umur, sebesar 17,29 persen atau 6,61 juta tenaga kerja pertanian berusia kurang dari 30 tahun, 29,15 persen atau 11,14 juta orang berusia 30-44 tahun, 32,39 persen atau 12,38 juta orang berusia antara 45-59 tahun, dan 21,7 persen atau 8,09 juta orang berusia di atas 60 tahun. Sedangkan menurut pendidikan yang ditamatkan, 65,23 persen berpendidikan SD ke bawah.

“Ini perlu menjadi perhatian, di mana sektor pertanian didominasi oleh SDM yang berpendidikan rendah dengan usia yang sudah lanjut, sehingga ke depan kita perlu mencari cara bagaimana generasi muda bisa masuk ke sektor pertanian,” kata Suhariyanto, mengutip Antara.

Baca Juga: Panen Raya Petani Milenial Sukabumi

Kurangnya minat generasi milenial menjadi petani disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut misalnya karena penghasilan petani dinilai tak cukup besar untuk memenuhi kesejahteraan keluarga, pekerjaan dilakukan di alam terbuka di bawah terik sinar matahari dan lahan pertanian yang digarap tergolong pekerjaan yang dapat membuat pakaian dan tubuh petani menjadi kotor.

Tak hanya itu, ancaman hilangnya minat profesi petani dari generasi milenial diperkuat dengan adanya data dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). Bappenas bahkan memperkirakan pada 2063 tak ada lagi profesi petani seiring dengan turunnya pekerja di sektor pertanian.

Baca Juga: Berani Jadi Pahlawan Pertanian Kota

Faktanya, para pekerja sektor pertanian telah beralih profesi ke sektor lain. Tercermin dari sektor jasa yang proporsi pada 1976 sebesar 23,57 persen menjadi sebesar 48,91 persen di 2019. Begitu pula dengan proporsi pekerja di sektor industri yang meningkat menjadi 22,45 persen di 2019 dari sebelumnya 8,86 persen di tahun 1976.

Pada tahun 1976 proporsi pekerja Indonesia di sektor pertanian mencapai 65,8 persen. Namun, pada 2019 turun signifikan menjadi hanya 28 persen. Berdasarkan data ini, jelas terlihat bahwa Indonesia tak lagi didominasi oleh penduduk dengan mata pencaharian bercocok tanam. Adanya penurunan minat profesi petani dibandingkanprofesi lainnya.

Baca Juga: Ternak Etawa Untung Berlipat Ganda

"Apabila menggunakan tren ini dalam perhitungan linear, tentu saja hasilnya cukup mencengangkan, mungkin di 2063 tidak ada lagi yang berprofesi sebagai petani seperti yang kita kenal. Mudah-mudahan hal ini bisa kita lawan," kata Plt Direktur Pembangunan Daerah Kementerian PPN/Bappenas Mia Amalia.

Related News