• 27 May 2022

Tri-R BF Bersabar Kunci Kesuksesan Ternak Murai

SHARE SOSMED

"Sempat tidak terurus, ketika pandemi Covid-19 menerpa membuat ternakan Murai kembali disentuhnya dan ternyata justru berhasil. Murai membutuhkan adaptasi agar berhasil penjodohannya.'

Awalnya kesukaannya dengan burung kicau ketika masih duduk di SMA. Saat itu harga burung Murai masih berkisar seratus ribuan. Namun pada saat itu, harga tersebut masih tergolong tinggi. Selain Burung Murai, Saroso pemilik Tri R Bird Farm juga menyukai burung Wambi.

Saroso akhirnya baru mulai memiliki Murai setelah berkeluarga di tahun 2003. Awalnya memang langsung berusaha menjodohkan, tetapi tidak juga berhasil. Murai miliknya berujung menjadi burung lomba kicau atau gantangan.

Memasuki tahun 2017, Saroso kembali mencoba untuk berternak dengan membuat kandang yang sesuai. Kali ini harus merasakan kegagalan kembali hingga tahun 2019.

Akhirnya buah kesabarannya menghasilkan anakan Burung Murai pertamanya pada awal tahun 2020. "Sebenarnya cukup kaget ketika masa pandemi Covid-19, justru berhasil menetaskan telur. Padahal saat itu tidak terlalu konsentrasi dalam membudidaya Murai. Mungkin karena ada sedikit perubahan pada kandang ternak sehingga lebih sesuai kebutuhannya."

Saroso mengakui setiap burung Murai memiliki karakter berbeda."Harus memahami dengan baik setiap Murai yang kita ternakan. Memaksakan tidak akan dapat menghasilkan apapun dan berujung kematian atau zonk".

Dengan memiliki 8 kandang ternakan Murai, Tri R Bird Farm telah menghasilkan puluhan anak Murai. Hasil ini diperoleh dari indukan betina 10 ekor dengan Murai jantan 4 ekor. Sistem poligami berhasil diterapkan Saroso. "Tidak semua betina murai bisa di Poligami, kita harus mengetahui karakternya. Jika ada yang bilang poligami harus dari kecil, saya berhasil dengan mengetahui karakter setiap indukan betina."

Untuk saat ini, Tri R BF masih berusaha mencari indukan hasil budidaya sendiri sebagai indukan utamanya. Sebagai informasi tambahan, ternak atau budidaya Murai digolongkan dalam trah prestasi, panjang ekor (klewer) dan warna.

Dan Tri Jaya BF sedang berusaha memastikan hasil ternakannya selanjutnya akan masuk dalam tiga golongan tersebut. "Trah dari warna hingga karakter yang fighter untuk bermain di lomba kicau. Saya masih banyak harus belajar sambil berusaha dengan trah warna (Panda & Blorok). Walau saya tetap menyukai warna asli dari burung Murai."

Hasil dari hasil budidaya ternak murai, telah diserap oleh para penghobi burung kicau di Jabodetabek. Untuk memenuhi hal ini, Saroso mengatakan sangat mungkin dalam menambahkan jumlah kandang ternak. Jika diperhatikan, kandang ternaknya berbeda dengan model lainnya. Suasana santai sambil menikmati kicau burung dapat dirasakan sehingga kesannya sedang berada di cafe, apalagi dengan suguhan kopi asli. Bukan sekedar kopi saset.

Untuk saat ini, Tri R BF memiliki indukan pejantan mapan dengan usia 13 dan 8 tahun. Kedua dianggap malah lebih dapat memproduksi dengan hasil maksimal. "Si Jek sudah berusia hampir 14 tahun, sekarang jadi pejantan paling mapan. Memang lebih produktif, istilahnya 'Tua-tua keladi', " pungkas Saroso.

Tri R BF yang bermarkas di daerah Bekasi ini, juga membuka pintu untuk Sahabat Tani yang ingin sharing dalam membudidayakan burung Murai.

Related News