• 27 May 2022

KKP Targetkan Produksi Rumput Indonesia Timur

uploads/news/2022/05/kkp-targetkan-produksi-rumput-330947c40a12c4d.jpg
SHARE SOSMED

Jakarta (13/5) – Produktivitas perikanan budidaya masih terus bergejolak, paska Idul Fitri 1443 H/2022. Seperti produksi rumput laut dengan menggunakan teknologi kultur jaringan yang terus diproduksi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) guna meningkatkan produksi rumput laut nasional.

 

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu salah satu komoditas budidaya laut andalan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) adalah rumput laut. Sementara untuk meningkatkan produktivitas rumput laut, DJPB menggunakan teknik kultur jaringan.

 

Tebe, sapaan akrab Tb Haeru Rahayu menyampaikan DJPB melalui salah satu Unit Pelaksana Teknis yaitu Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon berperan untuk melakukan pengembangan dan pendistribusian bibit rumput laut di kawasan timur Indonesia.

 

Tebe menyampaikan bibit rumput laut hasil kultur jaringan merupakan teknik budidaya bibit rumput laut dengan cara pengambilan jaringan dari induk rumput laut unggul untuk dilakukan pembesaran di laboratorium guna menghasilkan bibit yang berkualitas.

 

“Penggunaan bibit rumput laut hasil kultur jaringan pada kawasan sentra rumput laut diharapkan dapat mendongkrak produksi rumput laut nasional yang menjadi program prioritas KKP,” tukas Tebe.

 

Sementara itu, Kepala BPBL Ambon, Sarwono mengatakan di BPBL Ambon pihaknya memiliki laboratorium kultur jaringan dan kebun bibit rumput laut, sementara di laboratorium kultur jaringan saat ini telah mengembangkan jenis rumput laut Eucheuma cottonii.

 

Sarwono menjelaskan semua tahapan di laboratorium kultur jaringan dilakukan antara lain; aklimatisasi induk, induksi kalus, regenerasi kalus menjadi mikropropagul, regenerasi mikropropagul menjadi plantlet, serta aklimatisasi plantlet di rumah kaca/ ruangan indoor.

 

“Dengan demikian laboratorium kultur jaringan rumput laut di BPBL Ambon rutin setiap bulannya memproduksi plantlet untuk dibesarkan dan diperbanyak di kebun bibit,” kata Sarwono.

 

Selain itu, untuk mengantisipasi perubahan iklim, BPBL Ambon memiliki beberapa lokasi kebun bibit. Dia mengatakan dengan menggunakan sistem kultur jaringan, BPBL Ambon mampu memproduksi bibit rumput laut kultur jaringan sebanyak 1,5 ton pertahun.

 

Sementara pihaknya rutin mendistribusikan rumput laut hasil kultur jaringan dari BPBL Ambon ke Kabupaten Taliabu, Kabupaten Sula, Kabupaten Maluku Tenggara, Kota Tual, Kabupaten Buru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Yapen, Kabupaten Minahasa Utara, dan Kabupaten Tapanuli Selatan.

 

Menurutnya keuntungan perbanyakan bibit rumput laut dari metode kultur jaringan lebih unggul jika dibandingkan dengan metode secara konvensional. Dia mengatakan thalus kultur jaringan lebih banyak percabangannya, selain itu rumput laut hasil dari kultur jaringan lebih tahan terhadap perubahan lingkungan, dan thalus lebih padat, serta apabila kondisi lingkungan baik, pertumbuhannya bisa lebih cepat.

 

Sementara itu, salah satu pembudidaya rumput laut asal Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku, yang tergabung dalam Pokdakan Yawan Ridol Mandiri, Andi Batlayri mengatakan pihaknya sangat senang usaha budidaya rumput laut hasil kultur jaringan. “Dengan usaha budidaya rumput laut hasil kultur jaringan lebih tahan dan lebih cepat besar,” kata Andi Batlayri.

 

Menurutnya, saat ini harga rumput laut juga cukup baik mencapai Rp 29 ribu per kg, dengan demikian perkembangan budidaya rumput laut di Tanimbar cukup menggeliat. “Saat ini harga rumput laut mencapai Rp 29 ribu per kg, kami berhasil budidaya rumput laut dalam satu siklus selama sebulan mampu mencapai produksi sebanyak 10 ton, dan hal tersebut tentu mampu memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pendapatan para pembudidaya,” kata Andi.

 

Sementara itu sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot produktivitas rumput laut untuk kebutuhan pasar domestik maupun ekspor. Salah satu langkahnya dengan aktif memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada masyarakat terkait produksi rumput laut menggunakan sistem kultur jaringan. Menteri Sakti Wahyu Trenggono menyatakan rumput laut bisa digunakan sebagai komoditas yang bisa dikelola untuk menghasilkan beragam manfaat, selain produk pangan, rumput laut juga bisa dijadikan pupuk, kosmetik, serta bahan baku farmasi

Related News