• 6 October 2022

Kuliahkan Anak dari Cuan Bonsai

uploads/news/2022/07/kuliahkan-anak-dari-cuan-422166e4089d316.jpg

BOGOR - Hobi jika ditekuni dan dikelola dengan baik bisa membawa berkah tersendiri. Seperti yang dilakoni Suparno, warga Citayam, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bertahun-tahun menggeluti budidaya bonsai, ia berhasil menghantarkan ketiga anaknya mengeyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Suparno bercerita sebelum terjun bertani bonsai, ia mulai terpincut dengan keindahan tanaman yang disimpan pada pot yang dangkal itu sejak duduk di bangku SD. Bahkan saat SMP meluangkan waktu di luar jam sekolah untuk mencari jenis tanaman yang bisa dijadikan bonsai.

"Kita kan disebutnya petani bonsai," ujar Suparno ditemui saat persiapan Buletinzorg Bonsai Festival di Alun Alun Kota Bogor, Selasa (12/7).

Suparno mengatakan, budidaya bonsai yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pedagang bonsai. Namun ia juga menerima pembelian dari kalangan pencinta bonsai yang datang langsung ke kebun.

Diluar itu, Suparno juga memenuhi order bonsai dari sesama penggemar bonsai. Setiap laba pun dikumpulkannya untuk bekal menyekolahkan anaknya hingga meraih gelar sarjana di salah satu universitas terkemuka di Indonesia.

"Makanya yang kita perbanyak itu (bonsai), pedagang bisa beli, ibu-ibu yang bisa beli. Hasilnya ditabung. Ada sisa beli lagi pohon dan dijual lagi, hingga tercapailah anak saya sampai kuliah dari situ," ungkapnya.

Pria berusia 60 tahun ini mengakui usaha yang dilakoninya butuh perjuangan panjang. Seperti halnya tamanan bonsai yang butuh waktu panjang untuk memiliki nilai komersial tinggi. Kuncinya, kata Suparno, selalu menikmati segala proses dari usahanya.

"Memang perjuangannya cukup berat, tapi dibawa enjoy, jadi hidup ini saya anggap sebagai tamasya, jadi nggak ada yang berat," tandasnya. "Anak saya empat, semua (tiga orang) kuliah, yang satu masih SMP. Iya, pembiayaannya dari hasil bonsai, dan sekarang ada sudah kerja."

Ia mengungkapkan, budidaya bonsai dilakukan di atas lahan seluas 200 meter persegi. Sebelum era digital seperti sekarang, sambungnya, pengetahuan budidaya bonsai didapat secara otodidak. Namun jiwa seni yang dimilikinya ada nilai tambah dalam merangkai bonsai.

"Dulu itu belum ada YouTube, sekarang zaman sudah berkembang, jadi lebih gampang lagi. Orang tua sendiri juga tidak ada background di bonsai. Saya lukis dan matung juga, memang bonsai ini ada kaitannya dengan seni," tuturnya.

Menurutnya, perawatan bonsai tidak terlalu sukar tapi harus dengan hati dan hal terpenting ada rasa menyukai dahulu terhadap tanaman ini. "Jadi dasarnya senang dulu. Kita rawat, siram, kasih pupuk, ajak komunikasi itu pohon, karena boleh dikatakan dia (bonsai) itu tumbuh atau hidup," paparnya.

Ada beberapa jenis tanaman yang bisa dijadikan bonsai, di antaranya tumbuhan berbatang keras, umur panjang, daun kecil atau bisa dikecilkan dan juga dikotil (tumbuhan berbiji belah). Baginya, usaha bonsai ini dibilang unik.

"Nah itu saya bilang di bonsai itu unik. Terkadang seminggu tidak laku, cuman sekalinya laku satu hari itu bisa menutup untuk sebulan. Iya dalam sebulan ada lah sampai Rp10 juta," pungkas pemilik Nano Bonsai itu.

Related News