• 6 October 2022

Greg Hambali, Maestro Aglaonema

 

BOGOR - Berbicara mengenai aglaonema tak lepas dari sosok Greg Hambali. Gregori Garnadi Hambali atau yang biasa disapa Greg Hambali telah menghasilkan banyak varietas aglaonema sehingga dijuluki Bapak Aglaonema Indonesia.

Salah satu karyanya yang terbilang sukses dan terkenal adalah aglaonema varietas Harlequin, yang dirilis tahun 2006. Hibrida ini dinilai dengan harga Rp660 juta dalam sebuah lelang yang diselenggarakan pada tahun 2006.

Pria kelahiran tahun 1949 ini hingga sekarang masih aktif menelurkan karya aglaonema silangangnya yang memesona dengan pelbagai warna, bentuk dan ukuran. Diketahui, Greg mulai menyukai aglaonema sejak tahun 1980.

"Yang nomor satu saya suka sesuatu yang baru dan saya lihat ini tanaman yang belum banyak ditangani orang, dan lagi tanaman indukan yang tertinggi itu asalnya dari Sumatera, sangat sayang kita sebagai orang Indonesia tidak ikut berperan dalam meningkatkan tanaman hias yang ada supaya bisa lebih cantik lagi. Kita jangan cuman jadi penonton saja," ujarnya saat ditemui di Bogor Flora Festival, belum lama ini.

Ia memperkirakan ada seratus varietas aglaonema dari hasil persilangan yang dilakukannya dari awal dan beberapa varietas masih tetap eksis hingga saat ini. Dari sekian karyanya itu, Greg mengaku aglaonema yang memiliki nilai tersendiri baginya, seperti varietas Lotus Delight dan Pride of Sumatera.

"Yang jelas tanaman bagus adalah yang makin besar makin terlihat keindahannya, contohnya Lotus Delight dan Pride of Sumatera, ditangan orang yang mampu merawatnya itu juga dikatakan satu varietas yang memiliki pesona tersendiri," ujarnya.

Ia mengatakan, hal utama dalam perawatan tanaman dari suku talas-talasan atau Araceae ini mesti berangkat dari senang dahulu yang otomatis selalu memantau keberadaan tanamannya. Sehingga jangan sampai menyukai tanaman ini saat tengah naik daun saja.

"Jadi jangan cuman senang kalau harganya tinggi, tapi juga harus memiliki kepedulian waktu tanaman harganya rendah. Malah itu justru bagus, kalau orang lain sudah tidak suka lagi otomatis di pasar berkurang atau habis, dengan sendirinya saat ada yang membutuhkan itu menjadi kesempatan," paparnya.

Untuk perbanyakan aglaonema, terang Greg, tergolong mudah bisa dilakukan dengan metode penyetekan batang dan juga pemisahan anakan. Namun hal yang mesti diperhatikan, yaitu penggunaan alat potong untuk batang tanaman.

"Silet yang dipakai baru, sekali pakai buang, sehingga virus tidak menyebar melalui silet atau pisau yang sama digunakan terus menerus. Jadi untuk satu pot cuman satu potongan silet," paparnya.

Secara pasar, dirinya menilai aglaonema memiliki potensi besar tidak hanya di Tanah Air, namun ceruk pasar dunia. Seperti di Amerika Serikat disebutkan banyak para penggemar aglonema bukan hanya menyukai aglaonema yang berwarna merah, akan tetapi tampilan warna yang hijau ataupun strip putih.

"Aglonema ini relatif lebih tahan di ruangan yang ber-AC dan memiliki kelebihan lain dibandingkan tanaman hias lain. Jadi tentunya sudah banyak yang suka dan penggemarnya itu boleh dikatakan dari waktu ke waktu terus bertambah," imbuh Greg.

Ia mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi aglaonema punya nilai jual tinggi di pasaran. Diantaranya adalah varietas aglaonema baru, kondisi tanaman, termasuk daya beli dari aglaonema itu sendiri.

"Untuk tanaman yang baru otomatis harganya akan tinggi sekali, tapi tanaman yang sudah ditangani banyak orang harganya ditentukan oleh harga rata-rata. Jadi soal harga tergantung juga perawatan, kondisi tanaman dan sebagainya. Dan juga besarnya minat dan daya beli, harga berapa pun tidak diperhatikan," katanya.

Bagi maestro aglaonema ini, konsisten dan ketekunan menjadi hal penting untuk menghasilkan karya aglaonema yang memiliki daya tarik khas. "Lihat bukan hasil yang sekarang tapi lihat jauh kedepan," ucapnya. Salah satu varietas aglaonema terbarunya saat ini, yakni Jayanti yang dijual Rp50 juta per paket terdiri dari tujuh pot dengan 20 sampai 25 tanaman.

Related News