• 21 July 2024

Warga Parigi Enggan Konsumsi Ikan, Ini Penyebabnya 

Jagadtani - Hingga saat ini banyak warga Kecamatan Parigi dan sekitarnya, di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, masih enggan mengonsumsi ikan. 

Hal itu disebabkan oleh kerap ditemukannya bangkai babi yang terapung di sungai dan laut. 

Beberapa waktu lalu, warga yang yang bermukim di pinggiran sungai mengeluh karena menemukan beberapa ekor bangkai babi yang terbungkus karung di pinggiran sungai. 

Warga Parigi Enggan Konsumsi Ikan, Ini Penyebabnya "Warga Parigi Enggan Konsumsi Ikan, Ini Penyebabnya "

Bahkan, beberapa hari lalu, warga di Desa Pelawa, Kecamatan Parigi Tengah, menemukan bangkai babi yang terdampar di bibir pantai. 

Bangkai babi tersebut, diduga dibuang oleh pemiliknya di sungai dan terseret ke laut.

Ketakutan warga untuk mengonsumsi ikan, karena khawatir ikan di sungai dan laut telah memakan bangkai babi yang banyak ditemukan. 

Hal itu dibenarkan oleh salah satu warga Desa Pangi, Fatanah Badrun. Ia bersama keluarganya masih takut mengonsumsi ikan sejak pertama kali mendengar kabar bangkai babi di temukan di laut.

"Rabu minggu lalu saya dengar, hari itu juga kami di rumah stop dulu makan ikan," ujarnya Selasa (20/7/2023). 

Ketakutan warga, bukan tidak beralasan. Sebab, selain tidak ingin ikan yang dikonsumsi sudah memakan bangkai babi, mereka juga khawatir dengan kabar matinya babi secara massal di Parimo diakibatkan oleh virus. 

"Yang jelas kita takutlah, siapa yang mau terjangkit penyakit dari hewan," tutur Risman, salah satu warga Loji.

Kondisi ini tentu juga berdampak pada pedagang ikan di Pasar Sentral Parigi. Mereka mengaku sepi pembeli. Bahkan, tak sedikit ikan sisa jualan harus dibuang percuma.

Warga Parigi Enggan Konsumsi Ikan, Ini Penyebabnya "Warga Parigi Enggan Konsumsi Ikan, Ini Penyebabnya "

"Iya sangat berdampak pada omset penjualan, sampai sekarang masih sepi pembeli, Pastinya warga takut terserang virus penyebab matinya ternak babi setelah mengkonsumsi ikan," ujar Busra, salah satu penjual ikan.

Kata dia, membuang ternak babi di sungai dan laut sangat mempengaruhi daya beli masyarakat. Padahal, ikan menjadi bahan makanan utama.

Sebelumnya menurut Busra, pedagang ikan dapat menghabiskan stok hingga dua termos dalam sehari. Namun, sebulan belakangan minat beli masyarakat terus meurun akibat kondisi tersebut.

"Satu termos ikan, totalnya seharga Rp.400 ribu hingga Rp.1 juta bisa terjual habis. Tapi sekarang, pembeli sepi. Satu termos ikan, butuh waktu berhari-hari dijual, bahkan tidak habis," keluhnya.

Senada dengan itu, pedagang ikan lainnya, Amin mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) dan DPRD Parimo untuk membantu pedagang mencari solusi atas persoalan tersebut.

Salah satunya, dengan sosialisasi untuk menjelaskan ke masyarakat, agar tak lagi resah dan khawatir bila mengkonsumsi ikan.

"Kami butuh langkah cepat pemerintah, kalau tidak kemungkinan kami akan lakukan demo ke pemerintah, sebab ini sangat meresahkan kami, kami bisa makan dari sini,"

Secara terpisah, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Parigi Moutong telah menegaskan bahwa yang menyebabkan kematian mendadak ternak babi bukanlah Flue Babi melainkan ASF.

Meski begitu, ia menginbau pemilik ternak babi agar tenak yang mati tidak dibuang di sungai. Sebab selain menimbulkan kemarahan warga, membuang bangkai di sungai dan laut merupakan tindakan mencemari lingkungan. 

"Warga tidak perlu kuatir, ASF tidak berbahaya bagi manusia, pemilik ternak kami harap ternak yang mati dikubur bukan dibuang ke sungai," tandas Kepala Bidang Pembibitan dan Produksi, I Wayan Purna.

Related News