• 6 October 2022

Bateng Angkat Sentra Cabai

uploads/news/2020/01/bateng-angkat-sentra-cabai-318168043ce6278.jpg

Tercatat saat ini sudah mencapai angka 16 ton per hektare setiap masa tanam dikalikan tiga hektare, totalnya 48 ton dalam satu kali masa tanam.

BANGKA TENGAH - Dalam upaya menjadikan Desa Trubus sebagai sentra cabai. Kelompok Tani Citra Trubus, Dusun Nadi, Desa Perlang, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung secara maraton membudidayakan tanaman cabe besar di lokasi Lahan Dusun Nadi. Poktan andalan Pemerintah Daerah Bangka Tengah tersebut terus didorong untuk memproduksi hasil panen cabe besar.

Tercatat saat ini sudah mencapai angka 16 ton per hektare setiap masa tanam dikalikan tiga hektare, totalnya 48 ton dalam satu kali masa tanam. Ke depan, diprediksi hasil panennya bisa meningkat lantaran biaya produksi sudah ditekan dengan menggunakan pupuk organik MA11 sebagai pupuk dasar maupun pupuk dasar. 

"Poktan ini andalan kita, saat ini sudah mampu memproduksi sebanyak 16 ton per hektare dengan menerapkan konsep pertanian organik menggunakan pupuk organik MA11 sebagai pupuk dasar dan pupuk lanjutan," ujar Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh, Kamis (23/1).

Baca juga: Misi Bateng jadi Pemasok Hortikultura

Ia menyebut, efisiensi biaya produksi sudah mampu ditekan hingga 70-80%. Tinggal ke depan, lanjutnya, bagaimana pemerintah daerah mencari inovasi baru untuk penanggulangan hama dan penyakit secara organik. 

"Produksi pupuk MA11 kita terus bertambah, itu tandanya petani banyak yang telah menggunakan pupuk tersebut. Ke depan kita mulai mencari inovasi baru untuk penanganan hama dan penyakit secara organik untuk menekan penggunaan pestisida, sehingga hasil panen aman dikonsumsi karena pestisida di bawah ambang batas," ujarnya.

Baca juga: Citra Trubus Tanam 50.000 Cabai

Sementara itu, Ketua Poktan Tani Citra Trubus Desa Perlang, Acoi menambahkan, pihaknya telah menggunakan pupuk organik MA11 sebagai pupuk dasar dan pupuk lanjutan. Bahkan, pihaknya menargetkan menekan biaya produksi mencapai angka 80% dari modal awalnya sebesar Rp200 juta untuk luas tiga hektare menurun menjadi Rp90 juta per tiga hektare.

"Untuk pemupukan dasar dan pupuk lanjutan telah sepenuhnya menggunakan pupuk MA11. Hanya pas waktu mau panen menggunakan pupuk NPK DGW untuk menambahkan bobot buah cabe yang pemberiannya dengan cara campur pupuk dan air kemudian disiram ke tanaman," pungkasnya.

Related News