• 24 June 2024

Tradisi Menangkap Ikan Nike di Parimo

Jagadtani - Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, merupakan daerah yang Mempunyai garis pantai sepanjang 472 kilometer.

Tentunya, sebagian besar masyarakat yang tinggal di pesisir bergantung hidup pada sektor kelautan dan perikanan.

Seiring berjalanya waktu, usaha penangkapan ikan di daerah tersebut terus berkembang. Bahkan jumlahnya kian bertambah.

Metode penangkapan ikan pun lebih mudah dan hasil penangkapan lebih banyak.

Tradisi Menangkap Ikan Nike di Parimo"Tradisi Menangkap Ikan Nike di Parimo"

Namun tidak bagi nelayan di Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara. Mereka punya alasan kuat untuk mempertahankan cara lama meski hasilnya kecil.

Hingga saat ini, nelayan setempat masih menggunakan metode menangkap Ikan Nike dengan skala kecil atau sebutan masyarakat lokal 'Bapoka'.

"Ini cara lama, paling banyak dapatnya lima ember cat," kata nelayan setempat, Jum'i Masajidi sembari memindahan jaring miliknya.

Ia menjelaskan, menagkap Ikan Nike dengan skala besar bisa menggunakan pukat besar di depan muara sungai atau yang disebut warga loka 'Tagahu'. Namun nelayan setempat menolak metode tersebut karena dinlai dapat mengancam keberlanjutan hidup ikan.

Sebab kata Jam'i, Nike merupakan salah satu jenis ikan berukurn kecil. Sehingga jika menggunakan tagahu, bisa dipastikan anak ikan jenis lain bisa ikut terjaring.

Tradisi Menangkap Ikan Nike di Parimo"Tradisi Menangkap Ikan Nike di Parimo"

Selain itu, indukan Ikan Nike juga belum diketahui hingga saat ini belum diketahui, sehingga hika menggunakan pukat besar, ditakutkan ikan yang hanya ditemukan di kawasan Teluk Tomini itu akan habis.

"Kalau pake tagahu, sudah pasti dorang (mereka-red) ambil semua, kita tidak dapat, kalau begitu kan bisa berbagi, sama-sama dapat," jelasnya.

Jam'i kemudian menunjukan cara warga setempat menangkap Ikan Nike. Caranya cukup unik. Para nelayan hanya meletakan perangkap berjajar di aliran sungai dekat muara.

Tradisi Menangkap Ikan Nike di Parimo"Tradisi Menangkap Ikan Nike di Parimo"

Perangkap berbentuk bulat panjang seperti guci itu, disebut warga setempat 'Poka'. Terbuat dari anyaman lidi dan rotan dibungkus jaring.

Ikan Nike yang berukuran kecil tersebut, nantinya akan masuk melalui lidi ke dalam perangkap dan tak bisa keluar lagi.

"So te bisa lagi keluar lagi dia (Ikan Nike-red), tinggal tunggu penuh baru di angkat," jelasnya.

Tradisi bapoka ini, tampak sangat mudah. Sebab, nelayan hanya meletakan perangkap di aliran sungi, setelah itu tinggal duduk menunggu perangkapnya penuh.

Namun, tradisi ini hanya bisa dilakukan sekali dalam sebulan, tepatnya awal kemunculan bulan di langit.

Sebab di waktu itulah Ikan Nike muncul bergerombol dengan jumlah besar di kawasan muara dan masuk melawan arus sungai.

"Pokoknya kalau sudah bulan baru, kalau orang bilang bulan mati, pasti sudah banyak dorang (Ikan Nike red)," terangnya.

Jam'i tidak sendiri. Banyak warga setempat yang turun memasang perangkap ikan di sungai. Salah satunya Asma, Ia mengaku sudah mendapatkan lima ember nike.

Bersama sang suami, ia memasang Poka tersebut sejak pukul 06.00 pagi. "Tapi kami tinggal dulu, sambil kerja yang lain, nanti siang baru datang liat," terang Asma.

Ikan Nike di Parimo"Ikan Nike di Parimo"
 

Menurut Asma, Bapoka sudah dilakukan masyarakat sejak lama, dia sendiri pertama kali belajar bapoka sejak usia remaja karena kedua orangtuanya selalu menangkap Ikan Nike jika waktunya tiba.

"Kalau saya sudah lumayan lama juga, karena dari umur 15 tahun sudah diajak orang tua," katanya sambil mengingat.

Ia berharap, tradisi ini tetap dilakukan agar Ikan Nike bisa dikonsumsi setiap generasi."Kita tidak bisa jamin 10 tahun kemudian cra ini masih digunakan," tandasnya.

Related News