• 2 March 2024

Sejarah Kota Batu Sebagai Daerah Pertanian

Jagadtani - Memiliki karunia keindahan alami dengan letak geografis membuat Kota Batu tidak hanya sebagai tujuan berwisata. kota Batu juga dikenal sebagai daerah pertanian dengan beragam hasil pertanian sebagai komoditas andalannya.

Asal nama kota Batu sendiri, bermula dari penyebutan Mbah Wastu menjadi Mbah TU dan lambat laun menjadi Mbatu atau Batu. Mbah Wastu sendiri merupakan seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau dikenal dengan nama Kyai Gubuk Angin. Beliau pindah ke kaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran serdadu Belanda dan tetap menyiapkan agama Islam.

Letak geografis kota Batu

Berada pada 7°44'– 8°26' Lintang Selatan dan 122°17'–122°57' Bujur Timur dengan luas wilayah 202,30 Km2. Wilayah kota ini berada di ketinggian 680-1.200 meter dari permukaan laut dan diapit oleh 3 buah gunung yang telah dikenal yaitu Gunung Panderman (2010 meter), Gunung Arjuna (3339 meter).

Dengan letaknya paling tinggi di Malang Raya, kota Batu sangat mempesona sehingga pada era Belanda dijuluki De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa. 

Pertanian di kota Batu

Dengan letak geografis sangat memberikan keuntungan, kota Batu mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan. Keuntungan tersebut membuat sebagian besar masyarakat kota Batu bekerja sebagai petani.

Buah Apel andalan Kota Batu "Buah Apel andalan Kota Batu "

Hasil pertanian utama dari Kota Batu adalah buah, bunga dan sayur-mayur. Buah Apel masih menjadi komoditas andalan utama, dengan empat varietas Apel yaitu manalagi, rome beauty, anna, dan wangling.

Untuk sayur mayur, petani Kota Batu banyak yang fokus pada sayur sawi, daun bawang, wortel, kentang, labu siam, kembang kol, cabai dan lain sebagainya. 

Seperti halnya daerah pegunungan yang menjadi tempat wisata, berbagai perkebunan bunga maupun tanaman hias juga mudah ditemui di kota Batu. Tanaman hias atau bunga yang dibudidaya masyarakat Batu, yaitu Mawar, Krisan (Chrysantemum), Philodendron, Anggrek, Anthurium dan sebagainya.

Bunga Krisan dari kota Batu "Bunga Krisan dari kota Batu "

Sistem pertanian kota Batu 

Dengan berbagai komoditas yang dihasilkan petani dari kota Batu, sangat wajar bila mayoritas penduduknya memilih sebagai petani. Para petani tersebut mengandalkan beberapa sistem pertanian demi meningkatkan hasil panen.

Sistem konvensional memang masih terlihat dilakukan oleh para petani, tetapi juga ada yang telah menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan, yaitu pertanian organik dan pertanian vertikal.

Pertanian verikal adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat pada skala indoor maupun outdoor, seperti di Desa Wisata Tlekung - kota Batu. Keunggulan dari pertanian vertikal dapat menghasilkan kualitas udara lebih baik, sayuran yang lebih segar, dan lebih sedikit emisi gas rumah kaca.

Petani memanen kentang "Petani memanen kentang "

Beragamnya hasil pertanian dari kota Batu, tentunya tidak hanya menjadi destinasi wisata tetapi juga dapat dikatakan sebagai daerah penyangga kebutuhan pangan di Indonesia.

Related News