• 13 June 2024

Terbangnya Si Kuning ke India

uploads/news/2020/02/terbangnya-si-kuning-ke-145038c0cb8a1eb.jpg

“Petani diharapkan juga memiliki kemauan, dan mampu menerapkan ragam teknologi modern untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan daya saing produk.”

JAKARTA - Komoditas hortikultura Indonesia bisa dikatakan masih sangat potensial untuk merambah ranah ekspor ke sejumlah negara. Hal itu sejalan dengan program Kementerian Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, yang selalu menggaungkan program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Produk Pertanian (Gratieks). Gratieks merupakan program dengan gerakan terukur, terencana, terkonsepsi, dan mampu dijangkau masyarakat secara realistis.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura, Kementerian Pertanian, terus menggenjot ragam potensi yang dimiliki oleh komoditasnya. Bukan hanya sayur dan buah-buahan saja yang menjadi komoditas mampu bersaing ekspor, tanaman obat juga mampu bersaing dalam hal ekspor. Seperti kunyit yang menjadi salah satu primadona tanaman sayur dan obat yang banyak dikembangkan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Ponorogo, Jatim.

Nah, baru-baru ini komoditas kunyit telah dipersiapkan untuk dilepas ekspor sebanyak 110 ton ke India. Ekspor itu dilakukan oleh CV Berkah Jaya, perusahaan yang bergerak di bidang ekspor tanaman sayur dan obat seperti ginseng, kunyit dan lengkuas. Perusahaan tersebut mengklaim, mereka telah bekerja sama dengan para petani, dan rutin melakukan ekspor sejak 2017.

Selain itu, kunyit yang diekspor ke wilayah India berasal dari petani mitra dan non mitra di daerah Kediri, Pacitan, Trenggalek, serta Wonogiri. Kunyit yang diekspor sendiri sudah dalam bentuk kering dan memiliki kandungan curcumin minimal 4%. Direktur Utama Berkah Jaya, Gigih menjelaskan, perusahaannya rutin ekspor ke negara yang terkenal dengan julukan Negara Anak Benua tersebut.

"Tahun 2017 kami ekspor 100 ton kunyit kering. Pada 2018 volumenya meningkat hingga 1.100 ton per tahun. Tahun ini ditargetkan 1.000 ton," ujar Gigih, Direktur Utama Berkah Jaya.
Baca juga: Kebangkitan Cokelat Emas Ransiki

Ia menjelaskan, tahapan ekspor dilakukan sebanyak 10 kali pengiriman. Sekali kirim volume-nya lima kontainer dengan  nilai ekspor mencapai sekitar Rp1,8 miliar. 

“Untuk tahun ini rencana pengiriman perdana dilakukan minggu pertama Februari, dan berlanjut hingga akhir Desember mendatang,” sambung Gigih.

Sementara itu, Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, mengaku sangat bangga dan mendukung kinerja ekspor CV Berkah Jaya. 

“Terus terang, saya sangat bangga atas hal ini. Ternyata produk-produk tanaman obat kita diminati negara lain. Saya berharap volume ekspor bisa terus ditingkatkan, sekaligus memperluas jaringan pasar demi medukung program Gratieks,” ujar Prihasto.

Baca juga: Memonitor Pertanian Nasional Lewat AWR

Prihasto juga berharap petani terus bersemangat dala upaya meningkatkan hasil produksi, termasuk di dalamnya menerapkan teknologi terbaru. Dari sektor on farm, yang diharapkan Prihasto dari para petani tanaman obat yaitu semangat dalam berbudidaya. 

“Petani diharapkan juga memiliki kemauan, dan mampu menerapkan ragam teknologi modern untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan daya saing produk,” tutupnya.

Related News