• 18 July 2024

Petani Urban Di pinggir Kali Ciliwung Jakarta

 

Jagadtani - Bernama Andiya, petani dari Cirebon, kini tinggal di Jakarta Bersama keluarganya sejak tahun 2013. Sedikit cerita beliau memutuskan pindah dari Cirebon ke Jakarta karena dirinya kesulitan mencari pekerjaan.

Di Jakarta, Andiya tinggal di wilayah pinggiran kali Ciliwung, kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat. Berawal memiliki niatan untuk memanfaatkan lahan di bantaran kali Ciliwung untuk membuka lahan pertanian sayuran, buah, bonsai dan pengembangan ternak lele. 

Dalam obrolan, Andiya mengatakan, “setelahnya saya di Jakarta dengan lingkungan dan komunitas baru, saya mencoba mencari pekerjaan baru itu sangat susah, dan tempat tinggal saya di pinggir kali persis. Melihat lahan bantaran kali sangat kotor dan banyak sampah beserakan dimana-mana, sehingga kalau dibersihkan bakal enak dan nyaman tidak lagi bau dan banyak nyamuk”.

Kemudian, Andiya menanam Bonsai, Buah Anggur, Singkong dan mengembangbiakan Ikan Lele pada petakan lahan, meski awalnya ia tidak menjual hasil pertaniannya. Awalnya hanya membagikan kepada tetangga sekitarnya dari hasil panen dan sekaligus memperlihatkan pengembangan tanaman bonsai dan Ikan Lele yang akan di jual.

“Saya pikir mencari kegiatan saja dulu di Jakarta, karena saya hanya bisa bercocok taman tidak punya keahlian yang lain. Saya mencoba tanam anggur dan singkong. Saya tidak jual, saya mempersilakan warga menicip dan mencabut, silakan,” kata beliau.

Keberadaan sungai Ciliwing sebenernya sangat penting bagi pertumbuhan kota Jakarta. Sejarah Sungai ini dulu menjadi pusat dan jalur transportasi. Sungai ciliwung ini behulu di gunug Pangrango, Jawa Barat. Sungai ini mengalir melalui kawasan puncak, Ciawi, lalu membelok ke utara melalui Kota Bogor, Depok, Jakarta dan bermuara di Teluk Jakarta.

Pertama kali yang ditanamnya adalah sayur Oyong, tanaman yang memiliki batang yang panjang dan merambat sehingga sering kali perlu disediakan penyangga agar dapat tumbuh dengan baik. Selain itu harus mempersiapkan lahan dengan memilih titik tertentu yang mendapatkan sinar matahari yang cukup, minimal enam hingga delapan jam sehari. Agar Oyong juga dapat tumbuh baik di titik tanah yang beliau pilih. Pastikan tanah diberi pupuk organik untuk meningkatkan kualitasnya. “Setelah sekitar 60-70 hari setelah penanaman sudah bisa memetik hasil panen, dapat menikmati hasilnya dan bahkan berbagi panen dengan keluarga atau tetangga tujuan untuk bersodaqoh”, pungkasnya.

Alasan beliau bercocok taman di pinggir sungai untuk mencegah warga di sekitar aliran Kali Ciliwung membuang sampah secara sembarangan. Jika dimanfaatkan menjadi lahan produktif dari komoditasnya, warga pun jadi tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan.

Dalam mengandalkan beberapa komoditas yang bisa beliau jual ke pasar-pasar seperti singkong, pisang, anggur dan bonsai jika saat ini masih belum mendapatkan keuntungan signifikan, karena ada beberapa kendala salah satunya jika musim hujan tiba.

Saat ini menggantungkan pada penjualan komoditas tersebut dengan rata-rata keuntungan 250 ribu saat masa panen. “Kalau kapasitas produksi singkong, pisang, satu kilogram singkong dengan harga 3 ribu. Untuk pisang 1 tandan dengan harga 50 ribu. Saya dapat 16 kilo dari singkong berati 50 ribu dan pisang 4 tandan 200 ribu itupun ada biaya lain-lain lagi jadi tidak seberapa. 

Selain itu kegiatan lainnya yang masih bisa berbagi hasil panen dan berbagi ilmu, sebenarnya suatu kebanggaan buat diri saya sendiri tidak akan terlupakan, bisa memberikan pembelajaran secara otodidak kepada siswa-siswa TK dan Sekolah Dasar seperti cara menanan pohon, menanam buah seperti pisang dan anggur.

Kegiatan bertani ini terus berjalan dengan sebutan yang diberikan yaitu Mandiri Indah Tani yang bertujuan menjadi nilai positif dan memperlihatkan masyarakat di sekitar. Alhamdulillah sudah banyak masyarakat ingin mencoba bahkan sampai anak sekolah juga datang berkunjung untuk mengetahui cara beternak.

Harapan untuk pemerintah bisa melihat, membantu bahkan dapat bekerjasama untuk lahan yang ada ini menjadi lebih bersih dan memberikan manfaat positif & supaya menjadi lahan yang produktif. Sehingga lebih banyak menanam tanaman sayuran atau buah sebanyak-banyaknya untuk kemandirian pangan dan juga dapat minimalisir polusi udara di Jakarta.

 

 

 

Sumber: 

Smart Greenhouse Inovasi Dengan Perencanaan Matang - Jagad Tani - Petaninya Milenial

https://www.semanticscholar.org/paper/Model-Ecofarming-Untuk-Mewujudkan-Sistem-Usahatani-Widiriani/8ac9d5d7893c6b78fbc9b6b400d760f2979ce88f

Related News