
Jagadtani - Balai Besar KSDA (BBKSDA) Jawa Timur memiliki 26 kawasan yang dikelola, termasuk Cagar Alam (CA) Manggis. Masuk dalam wilayah kerja Seksi KSDA Wilayah (SKWI I) Kediri, Cagar Alam Manggis memiliki potensi utama jenis-jenis Ficus, seperti atau leses.
Ficus merupakan salah satu genus penting pada famili Moraceae. Di Indonesia, anggota Ficus spp. sering dikenal dengan nama Beringin- beringinan. Tentunya selain ficus, di cagar alam Manggis juga terdapat berbagai jenis flora dan fauna lainnya, termasuk terlihatnya Burung hantu.
Burung hantu, yaitu Kukuk Seloputo terlihat oleh petugas di Cagar Alam Manggis Gadungan. Burung dengan nama ilmiah Strix seloputo merupakan suku dari Strigidae atau burung hantu asli yang memiliki ukuran yang besar, yaitu 47 cm. Burung penetap yang cukup sulit ditemui ini memiliki sebaran alami mulai dari Asia Tenggara, Palawan, Jawa, dan Sumatera.
Jenis burung hantu tersebut juga dapat ditemui pada Cagar Alam di Pulau Bawean, namun secara ukurannya lebih kecil. Di seluruh dunia terdapat 132 jenis dari suku ini, 46 jenis diantaranya ada di Indonesia. Di pulau Jawa dapat dijumpai sebanyak 10 jenis dari suku Strigidae.
Burung malam terdiri dari lima suku, yakni Strigidae (burung hantu asli), Tytonidae (serak), Podargidae (paruh kodok), Caprimulgidae (cabak), dan Aegothelidae (atoko). Suku Strigidae dan Tytonidae merupakan keluarga dari burung hantu, Strigiformes.
Burung hantu ini dijumpai dan terdokumentasikan di alas simpenan, nama lain Cagar Alam Manggis Gadungan, pada siang hari saat patroli di kawasan tersebut. Menurut catatan, kukuk seloputo akan berkembang biak pada bulan Januari hingga Agustus dengan jumlah telur sebanyak 2-3 butir.
Dengan terlihatnya burung hantu Kukuk Seloputo, tentu harapannya tetap dapat menetap dan sekaligus berkembang biak di cagar alam Manggis Gadungan yang memiliki luas 13,356 ha ini.