• 5 April 2025

Coating Glossy Sawit, Perpanjang Kesegaran Buah

Jagadtani - Pasca panen buah - buahan, kerap menjadi kendala tersendiri bagi para petani hingga pelaku industri. Berkat coating glossy Sawit, usia kesegaran buah dapat diperpanjang dan yang terpenting aman untuk dikonsumsi.

Keunggulan coating glossy berbasis turunan sawit sebagai teknologi pasca panen berbasis sumber daya lokal, disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Agroindustri, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (OR PP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ali Asgar.

“Sedangkan teknologi nanopartikel silika biogenik dari abu boiler kelapa sawit bisa diaplikasikan sebagai rubber foam dan solid soles, untuk produk sepatu casual ramah lingkungan (biosnakers). Produk hasil riset ini juga memenuhi persyaratan eco-friendly fashion footwear,” terang Ali dalam Webinar Agroinfuture #9, bertajuk “Solusi Inovatif Teknologi Pascapanen untuk Agroindustri Modern”, Kamis (27/02).

Ali mengatakan, inovasi teknologi pascapanen dapat pula dilakukan pada saat pemrosesan, pengemasan, transportasi dan distribusi serta teknik penyimpanan maupun pengeringan modern. 

“Pemrosesan pascapanen berfokus pada teknologi otomatisasi dan peningkatan efisiensi pemrosesan pascapanen. Pemrosesan ini mencakup mesin pemisahan dan sortasi otomatis” kata Ali. 

Lebih lanjut Ali menyampaikan, pengemasan produk di Packing House dapat dilakukan dengan teknik pelilinan maupun pengepakan dan pengemasan sesuai dengan produk yang dihasilkan.

“Pelilinan bertujuan untuk mengurangi kehilangan air, meningkatkan umur simpan, mengurangi perkembangan penyakit. Kemudian mengganti bahan lilin alami pada buah selama pencucian, melindungi dari luka, dan memperbaiki penampilan buah,” beber Ali.

Ia juga mengungkapkan, teknik penyimpanan produk secara modern bertujuan untuk mempertahankan mutu dan kesegaran. Memperpanjang masa simpan, sehingga pasokan dan stabilitas harga dapat dijaga.

“Ada beberapa teknik penyimpanan modern dengan metode penyimpanan di gudang pendingin es atau mesin pendingin. Teknik yang digunakan dengan mengontrol suhu dan kelembaban, mengontrol atmosfer, maupun dengan teknologi pelacakan,” jelasnya.

“Beberapa teknik pengeringan dapat menggunakan instor drying untuk mempertahankan mutu dan mengurangi tingkat kerusakan produk pada pelayuan dan pengeringan bawang merah. Sedangkan ruangan smart drying bisa untuk pengeringan bahan baku obat. Selain itu, terdapat metode penggorengan vakum untuk menghasilkan mutu keripik kentang yang bernilai jual tinggi” lanjutnya.

Kepala ORPP BRIN Puji Lestari dalam sambutannya mengatakan, inovasi di sektor agroindustri khususnya bidang teknologi pascapanen diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk pertanian secara nasional. Di sisi lain juga dapat mendukung ketahanan pangan, serta kesejahteraan petani, maupun para pelaku usaha. 

“Teknologi pasca panen memiliki peranan penting untuk menjawab tantangan dalam sektor agroindustri. Mulai dari pengolahan, penyimpanan, hingga distribusinya yang efisien dan berkualitas tinggi,” kata Puji.

Puji menekankan perlu adanya kerja sama dengan stakeholder untuk memastikan inovasi yang dihasilkan. Selain itu juga dapat diterapkan secara praktis dan bermanfaat di lapangan. 

“Kolaborasi lembaga penelitian dengan pemerintah atau faktor swasta menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem inovasi. Tentunya untuk mendukung keberlanjutan, dan daya saing agroindustri secara nasional,” urai Puji. 

Lebih lanjut dia menyampaikan, melalui kegiatan ini diharapkan dapat menemukan dan mengembangkan inovasi pasca panen yang lebih efisien. Mulai dari riset yang berkelanjutan dan teknologi yang dapat membantu pelaku industri juga petani, serta meningkatkan efisiensi rantai pasok.

Kepala Pusat Riset Agroindustri BRIN Taufik Hidayat mengungkapkan, teknologi pascapanen saat ini menjadi salah satu support system bagi ekosistem pembentukan swasembada pangan. 

“Dengan teknologi pascapanen semua komoditas itu bisa dipertahankan, diperpanjang umur simpannya, diperkuat kualitasnya. Sehingga ketika dihilirkan menjadi produk yang sangat baik dan juga bernilai tambah,” ungkap Taufik. 

Taufik mengatakan, inovasi riset yang dihasilkan oleh periset di BRIN maupun di perguruan tinggi dapat diaplikasikan untuk meningkatkan nilai tambah dan juga daya saing produk agroindustri.

“Harapan kami, tema dari narasumber bisa menjadi salah satu enabler untuk kita agar hasil riset ini bisa kita aplikasikan nantinya. Baik nanti untuk para petani yang bergerak di bidang hortikultura maupun yang bergerak pada taman tanaman strategis,” harap Taufik.

Related News