• 21 January 2026

Indonesia Perjuangkan Standar Inklusif Kayu Manis Global

uploads/news/2025/12/indonesia-perjuangkan-standar-inklusif-86303db4cbf6653.jpg

Jagad Tani - Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kayu manis Indonesia pada 2022 mencapai 60.018 ton. Dari sisi perdagangan, kinerja ekspor juga terus terjaga. Sepanjang 2024, ekspor kayu manis Indonesia tercatat 28.841 ton dengan nilai USD 112 juta. Sementara ekspor di 2025 hingga Oktober, telah mencapai 21.274 ton senilai USD 80,8 juta.

Angka tersebut mengantarkan Indonesia sebagai salah satu produsen dan pengekspor kayu manis terbesar dunia terutama untuk spesies Cinnamomum burmannii, serta mendorong pendekatan standar bersifat umum dan inklusif agar kayu manis dari berbagai spesies tetap diakui secara setara, sehingga tidak menimbulkan hambatan yang berpotensi melemahkan daya saing ekspor.

Baca juga: Pangan Murah Nataru Sasar Pengemudi Ojek Online

Bahkan upaya penguatan posisi tersebut diarahkan pada pengawalan pembahasan Draft Standard for Spices in the Form of Dried Barks – Requirements for Cinnamon yang dibahas dalam Sidang Codex Committee on Spices and Culinary Herbs (CCSCH) ke-8.

“Indonesia harus aktif memperjuangkan kepentingan nasional agar kayu manis yang dihasilkan petani dan pelaku usaha dalam negeri tetap dapat menembus pasar internasional tanpa hambatan yang tidak perlu,” ungkap Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Yusra Egayanti.

Menurutnya, standar kayu manis seharusnya disusun secara umum dan mencakup berbagai spesies sebagaimana tercantum dalam project document CCSCH, sebab pendekatan ini dinilai mencerminkan realitas produksi dan perdagangan kayu manis dunia.

Di Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terdapat tanaman kayu manis seluas 50 hektar yang tumbuh sebagai tanaman kanopi pada kebun kopi masyarakat. Pola tanam ini mendukung produktivitas kopi sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi petani dan memberikan ciri khas pada kopi yang dihasilkan.

“Tanpa tambahan apa pun, aroma kopi di sini jadi lebih wangi secara alami karena ditanam berdampingan,” ujar salah seorang warga Getas, Amri.

Pola tanam tersebut dinilai relevan dengan pembahasan standar Codex, terutama yang berkaitan dengan asal bahan baku, praktik budidaya, serta aspek mutu dan keamanan pangan. 

Bahkan Pakar Teknologi Pangan dari IPB, yakni Prof. Purwiyatno Hariyadi, menilai bahwa perjuangan Indonesia dalam forum standardisasi internasional harus didukung argumentasi ilmiah yang kuat. Ia menekankan bahwa seluruh spesies kayu manis berada dalam satu genus yang sama dan memiliki fungsi serta karakteristik yang setara dalam konteks konsumsi dan perdagangan global.

“Pendekatan standar sebaiknya berbasis pada aspek mutu dan keamanan, bukan pada pemisahan spesies yang berpotensi menimbulkan diskriminasi,” tukas Purwiyatno.

 

 

 

Related News