• 21 January 2026

Great Green Wall, Upaya China Menghijaukan Gurun

uploads/news/2025/12/great-green-wall-upaya-7693980f1f1555f.png

Jagad Tani - Jika Indonesia menghadapi laju deforestasi yang pada akhirnya berujung pada bencana yang baru-baru ini terjadi di Sumatra, China justru menempuh jalur berbeda sejak puluhan tahun lalu. Negeri Tirai Bambu tersebut secara konsisten menjalankan program reforestasi berskala besar, bahkan di wilayah gurun, sebagai upaya menekan penggurunan, melindungi pertanian, dan menjaga keseimbangan ekosistem.

China memiliki dua gurun utama, yakni Gurun Gobi di wilayah utara yang berbatasan dengan Mongolia serta Gurun Taklamakan di bagian barat. Keberadaan Pegunungan Himalaya di kawasan barat daya menciptakan efek bayangan hujan, sehingga wilayah utara China hanya menerima curah hujan sekitar 100–250 milimeter per tahun. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan rata-rata curah hujan di wilayah lain China yang bisa mencapai 1.500 milimeter per tahun. Kondisi geografis tersebut menyebabkan terbentuknya kawasan gurun luas dengan total area lebih dari 1,6 juta kilometer persegi. 

Baca juga: Pangan Murah Nataru Sasar Pengemudi Ojek Online

Masalah semakin kompleks ketika proses desertifikasi (penggurunan) membuat gurun terus meluas ke wilayah non-gurun. Mengutip laman Royal Geographical Society yang mencatat bahwa setiap tahun sekitar 3.600 kilometer persegi padang rumput dan 2.000 kilometer persegi lapisan tanah atas di China hilang akibat ekspansi Gurun Gobi. Dampaknya tidak hanya mengancam sektor pertanian, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.

Badai debu menjadi persoalan serius lainnya. Partikel pasir dari Gurun Gobi dan Taklamakan kerap terbawa angin hingga ke kota-kota besar di pesisir timur, termasuk Beijing. Debu tersebut bercampur dengan polusi industri dan memicu penurunan kualitas udara yang membahayakan kesehatan masyarakat.

Sebagai respons, China memulai proyek reforestasi besar pada 1978 yang dikenal sebagai Great Green Wall atau Tembok Hijau Raksasa. Program ini dirancang hingga 2050 dan menargetkan terbentuknya sabuk hijau sepanjang 4.500 kilometer dengan sekitar 100 miliar pohon. Proyek ini kini tercatat sebagai hutan buatan terbesar di dunia.

Pohon-pohon ditanam untuk menahan angin, menstabilkan bukit pasir, serta mengurangi erosi tanah. Selain itu, China juga meluncurkan program Grain for Green dan Program Perlindungan Hutan Alam sejak 1999, yang mendorong konversi lahan pertanian menjadi hutan serta melarang penebangan di hutan primer.

Selama lima dekade terakhir, tutupan hutan China meningkat dari sekitar 10 persen pada 1949 menjadi lebih dari 25 persen. Berdasarkan hasil penelitian dari  Lembaga Penelitian Ilmu Geografi dan Sumber Daya Alam Beijing yang menunjukkan frekuensi dan intensitas badai debu mengalami penurunan, bahkan hingga lebih dari 80 persen dibandingkan era 1980-an.

Namun, reforestasi di wilayah kering juga membawa tantangan baru, terutama terkait ketersediaan air. Sejumlah studi mencatat penurunan air tanah di beberapa wilayah akibat meningkatnya kebutuhan air vegetasi, salah satunya melalui jurnal Earth's Future. Meski demikian, pada 2024 pemerintah China menyatakan gurun terbesarnya telah berhasil dikelilingi vegetasi dan upaya penghijauan akan terus dilanjutkan sebagai strategi jangka panjang pengendalian penggurunan.

 

Related News