Solusi Perbaikan Ekosistem dengan Nature Based Solution
Jagad Tani - Seiring meningkatnya kejadian banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Indonesia, maka strategi ilmiah mitigasi bencana keairan, melalui Nature Based Solution (NbS) yang menempatkan fungsi alami ekosistem sebagai bagian integral dari upaya pengurangan risiko bencana berbasis sains, menjadi sebuah pilihan.
Luki Subehi, selaku Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa kejadian bencana keairan tidak terlepas dari kombinasi faktor iklim dan meteorologi, serta perubahan tutupan dan fungsi lahan. Fenomena banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi mencerminkan adanya proses degradasi ekosistem yang berlangsung dalam jangka panjang.
Baca juga: Jutaan Bibit Pohon Akan Ditebar Pemkab Bandung Melalui Udara
“Ini memperlihatkan adanya gangguan keseimbangan tanah dan air serta menurunnya fungsi ekosistem dalam mengatur aliran air,” ungkapnya, dikutip dari BRIN, Sabtu (20/12).
Menurutnya pendekatan mitigasi bencana tidak bisa terus mengandalkan solusi struktural dan fisik semata. Sebab strategi berbasis alam semakin relevan karena bekerja sejalan dengan karakter lingkungan dan proses alami di suatu wilayah.
Seorang Peneliti Ahli Utama PRLSDA-BRIN, yakni Asep Mulyono, menjelaskan bahwa hingga awal November 2025, banjir masih menjadi bencana yang paling sering terjadi di Indonesia, disusul oleh tanah longsor. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bencana keairan tidak hanya dipicu oleh faktor meteorologi, tetapi juga dipengaruhi oleh topografi serta degradasi ekosistem.
“Bencana alam tidak bisa dihindari, tetapi campur tangan manusia sangat menentukan skala kerusakan yang ditimbulkan,” jelas Asep.
Dilanjutkan bahwa hilangnya tutupan hutan meningkatkan aliran permukaan yang memicu erosi dan sedimentasi sungai, sehingga memperparah banjir dan longsor. Dalam hal ini, pendekatan hidropedologi menjadi penting untuk memahami interaksi tanah dan air dari skala mikro hingga bentang lahan.
“Vegetasi berperan menurunkan limpasan permukaan, meningkatkan infiltrasi, dan memperkuat stabilitas tanah, terutama di wilayah lereng. Nature Based Solution bukan sekadar menanam pohon, tetapi bagaimana ekosistem dikelola berdasarkan sains,” jelasnya.
Penerapan strategi berbasis alam ini tentu perlu diarahkan pada aforestasi lahan-lahan marginal dan reforestasi kawasan hutan yang rusak, guna memperkuat perlindungan hutan lindung dan kawasan konservasi yang masih ada. Karena keberhasilan penanaman sangat bergantung pada jenis pohon di zona ekologi, termasuk jarak tanam dan pertimbangan tingkat transpirasi tanaman.
“Tidak semua pohon bisa ditanam di semua tempat. Jenis, jarak tanam, dan tingkat transpirasi harus disesuaikan dengan tujuan dan kondisi wilayahnya,” ujarnya.
Selain itu, penting pula melihat waktu penanaman dan perawatan pascatanam. Penanaman yang dilakukan setelah musim hujan dinilai lebih efektif untuk meningkatkan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman.
“Tanpa perawatan dan pengawasan yang konsisten, fungsi mitigasi dari penanaman pohon tidak akan tercapai,” papar Asep.
Muhamad Askari, Senior Lecturer Faculty of Sustainable Agriculture dari Universiti Malaysia Sabah, menyampaikan bahwa Nature Based Solution perlu diterapkan dalam pengelolaan lanskap secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Karena air tidak mengalir langsung ke hilir, tetapi melewati kanopi, lantai hutan, dan sistem perakaran.
“Pendekatannya harus berbasis zonasi. Apa yang ditanam di hulu, tengah, dan hilir harus berbeda, sesuai fungsi hidrologi dan risikonya. Pengelolaan pertanian yang tepat dapat berkontribusi nyata dalam menurunkan risiko bencana keairan,” ujar Askari.

