Garam Sumenep, Identitas dan Penggerak Ekonomi
Jagad Tani - Di ujung timur Pulau Madura, Kabupaten Sumenep bukan hanya dikenal karena budaya dan sejarahnya yang kaya, tetapi juga sebagai salah satu sentra penghasil garam penting di Jawa Timur. Aktivitas produksi garam telah menjadi denyut ekonomi lokal dan sumber penghidupan bagi ribuan keluarga pesisir di daerah ini selama puluhan tahun.
Tambak garam tersebar luas di sepanjang pesisir selatan Sumenep, terutama di kecamatan Kalianget, yang sering disebut sebagai jantung produksi garam rakyat. Dari desa-desa pesisir seperti Marengan Laok, Pinggirpapas, hingga Kalimook. Para petani garam menjalankan tradisi yang turun-temurun dengan mengolah air laut menjadi kristal garam melalui proses penguapan alami.
Baca juga: Kegagalan Bisnis Ayam Hias Karena Minim Pengetahuan
Produksi garam rakyat di Sumenep terus menunjukkan tren positif. Pada musim produksi 2024, Dinas Perikanan Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Sumenep menetapkan target sebesar 129.419,27 ton, namun realisasinya mencapai 146.828,68 ton, meningkat sebanyak 17.409,41 ton dari target awal yang ditetapkan. Peningkatan ini didorong oleh musim kemarau yang panjang dan penggunaan teknologi sederhana seperti geomembran yang mempercepat proses produksi.
Secara historis, Madura memang sudah dikenal sebagai Pulau Garam, karena kontribusinya yang besar terhadap produksi garam nasional. Data pada beberapa periode menunjukkan bahwa Sumenep pernah mencatat produksi lebih dari 126.000 ton dan sempat menjadi salah satu penghasil garam terbesar di Jawa Timur. Bahkan, sejak abad ke-19, garam Madura telah menjadi komoditas penting yang diserap oleh perusahaan garam negara maupun pasar domestik lainnya.
Bagi masyarakat pesisir Sumenep, produksi garam bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bagian dari identitas komunitas. Banyak keluarga yang telah meracik teknik pembuatan garam secara turun-temurun, menjadikan tambak garam sebagai simbol kuat hubungan antara manusia dan laut.

