Kenaikan Pangan Impor Tekan Konsumen Korea Selatan
Jagad Tani - Indeks biaya hidup di Korea Selatan tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi konsumen secara keseluruhan selama lima tahun berturut-turut. Sementara harga produk pertanian, peternakan, dan perikanan juga naik 4,1%, terutama dipicu oleh kenaikan harga pangan impor.
Menurut Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan, indeks harga barang kebutuhan pokok seperti makanan, energi, dan transportasi tahun lalu naik 2,4% jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Freeze Drying Perluas Peluang Inovasi Pangan Lokal
Angka tersebut lebih tinggi 0,3% dibandingkan kenaikan indeks harga konsumen yang tercatat sebesar 2,1% pada periode yang sama. Tren kenaikan indeks biaya hidup yang lebih tinggi ini terus berlanjut sejak tahun 2021.
Pada tahun 2022, angka tersebut melonjak hingga 6,0%, sehingga selisihnya dengan inflasi konsumen yang tercatat sebesar 5,1% melebar menjadi 0,9%. Dengan kata lain, indeks biaya hidup yang sering digunakan sebagai ukuran inflasi yang dirasakan konsumen lebih tinggi dibandingkan indikator inflasi resmi.
Penguatan nilai tukar dolar ke kisaran 1.400 won belakangan ini mendorong kenaikan harga impor, sehingga tekanan biaya hidup yang dirasakan konsumen diperkirakan akan semakin besar ke depan. Bahkan di bulan Desember, harga produk minyak melonjak 6,1%, menjadi catatan kenaikan terbesar sejak Februari 2025 yang mencapai 6,3%.
Sumber: KBS World

