• 27 January 2026

Solusi Kemasan Pangan: Kertas Dilapisi Lemak Nabati

uploads/news/2026/01/solusi-kemasan-pangan-kertas-48444f5cc10414f.jpg

Jagad Tani - Pada saat ini kemasan makanan berbahan kertas semakin banyak digunakan, karena dinilai praktis, ringan, dan harganya relatif terjangkau. Terutama untuk makanan dan minuman siap saji yang dibawa pulang (take-out foods/drinks). 

Agar kertas tidak bocor saat terkena air atau minyak, kertas kemasan makanan biasanya dilapisi oleh bahan pelapis yang didominasi oleh plastik, contohnya polyethylene. Hal ini menyebabkan kemasan tersebut tidak dapat didaur ulang atau dikompos secara sempurna. 

Baca juga: Bahas Konservasi Gajah, Prabowo Temui Raja Charles

Di samping itu, komponen-komponen plastik, seperti plasticizer-nya, dapat bermigrasi ke dalam makanan ataupun minuman dan dapat memicu berbagai efek negatif bagi kesehatan.

Melalui tiga alasan utama, yakni kepraktisan, keberlanjutan, dan keamanan pangan, Zatil Afrah Athaillah, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kemudian mengembangkan metode pelapisan kertas menggunakan bahan lemak nabati, yang dikerjakan sejak awal tahun 2025. 

Zatil dalam risetnya menguji beberapa jenis minyak nabati, antara lain minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed. Minyak-minyak ini dipilih karena memiliki karakteristik yang memungkinkan terbentuknya lapisan pelindung pada permukaan kertas.

Adapun jenis minyak-minyak lain seperti minyak sawit dan zaitun juga sempat diuji, akan tetapi hasilnya belum memenuhi kriteria karena masih tembus air dan minyak.

Keberhasilan pelapisan diuji melalui serangkaian pengujian. Adapun uji paling dasar dilakukan dengan meneteskan air dan minyak di permukaan kertas, lalu diamati apakah terjadi rembesan ke bagian bawah dengan pengamatan dilakukan selama 60 menit.

Jika kertas tidak menunjukkan perubahan tampilan dan tidak tembus air maupun minyak hingga batas waktu tersebut, maka pelapisan dinilai berhasil. Batas 60 menit dipilih karena pertimbangan teknis pengujian, bukan karena setelah itu kertas akan otomatis tembus.

“Kalau diperlukan, sebenarnya pengujian bisa dilakukan lebih lama,” ungkap Zatil dalam keterangan tertulisnya di BRIN, dikutip Selasa (20/01).

Selain uji tetes sederhana, pengamatan juga dilakukan menggunakan mikroskop 3D, untuk melihat bentuk tetesan air dari sisi samping kertas dan sudut kontaknya dapat diukur.

Pada kertas tanpa pelapis, tetesan air cenderung melebar. Sebaliknya, pada kertas yang telah dilapisi minyak nabati, tetesan air tampak lebih membulat. Pengukuran menunjukkan sudut kontak air pada kertas berlapis mendekati 90 derajat, yang menandakan permukaan kertas lebih tahan terhadap air (bersifat hidrofobik).

Adapula uji kekuatan dan kelenturan kertas yang menggunakan texture analyzer, uji gugus fungsi pada kertas dengan fourier transform infrared (FTIR), uji kristalinitas menggunakan x-ray diffraction (XRD), uji kekentalan minyak, serta analisis komposisi asam lemak. Morfologi kertas juga diamati menggunakan berbagai teknik mikroskopi, termasuk scanning electron microscopy (SEM).

“Dari sisi sifat mekanik, kertas berlapis minyak nabati menunjukkan kekuatan dan kelenturan yang mirip, bahkan dalam beberapa kasus lebih baik, dibandingkan kertas tanpa pelapis,” terangnya.

Saat ini, hasil riset masih berupa lembaran kertas yang telah dilapisi, belum dibentuk menjadi produk kemasan seperti gelas atau wadah makanan. Meski demikian, metode ini telah didaftarkan dan memperoleh paten pada 2025 melalui skema pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN.

Zatil juga berharap riset jika ini dapat dilanjutkan dengan pengujian sensori untuk mengetahui apakah lapisan tersebut memengaruhi rasa atau aroma minuman, seperti kopi atau teh. Sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada plastik yang berbasis minyak bumi.

Related News