Hilirisasi Industri Karet Belum Sejahterakan Petani
Jagad Tani - Keberhasilan hilirisasi industri di Indonesia khususnya karet, dinilai oleh Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, masih jauh dari kata optimal.
Menurutnya, capaian hilirisasi tidak bisa hanya diukur dari peningkatan ekspor dan jumlah volume produksi saja. Sebab sekitar 85% ekspor Indonesia masih didominasi oleh barang setengah jadi, sehingga nilai tambah bagi negara dan kesejahteraan petani masih belum maksimal.
“Ini harus menjadi catatan kritis bagi Kementerian Perindustrian, bagaimana menambah nilai tambah bagi Indonesia, terutama bagi petani dan masyarakat sekitar industri,” ujar Novita Hardini.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pemberdayaan lingkungan dan pengelolaan keanekaragaman hayati di sekitar kawasan industri. Termasuk industri yang telah bertransformasi ke industri hijau, yang terintegrasi dengan pemberdayaan petani dan peningkatan serapan tenaga kerja lokal.
“Saya mengapresiasi, komunitas pengusaha karet yang sudah bertransformasi ke industri hijau. Tapi yang tak kalah penting, insentif itu harus berdampak langsung pada petani, masyarakat sekitar, peningkatan kreativitas, serta daya saing nasional,” tegasnya.
Dilanjutkan bahwa pemerintah agar tidak hanya fokus mengejar target ekspor, tetapi juga harus memperkuat pasar domestik. Karena ekspor bahan mentah dan setengah jadi tanpa nilai tambah, justru berpotensi menjadi kebocoran ekonomi bagi Indonesia.
“Kita harus bisa menjadi raja di negeri sendiri. Dampak kebijakan industri harus nyata dirasakan masyarakat dan petani,” pungkasnya.

