• 27 February 2026

Jadi Miracle Crop, Hilirisasi Kelapa Sawit Diperkuat

uploads/news/2026/02/jadi-miracle-crop-hilirisasi-5311866c85a5671.jpg

Jagad Tani - Guna mempercepat hilirisasi kelapa sawit yang kerap disebut sebagai miracle crop (tanaman ajaib) dan menjadi andalan perekonomian nasional, Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

“Kelapa sawit merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Produktivitasnya tinggi, efisien dalam penggunaan lahan, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga industri besar. Inilah yang membuat sawit layak disebut miracle crop,” ujar Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman. 

Baca juga: Pasar Murah Ramadan Sumenep, Lebih Murah 20-25%

Berdasarkan data publikasi statistik Direktorat Jenderal Perkebunan, luas areal kelapa sawit Indonesia pada tahun 2024 dan 2025 (angka sementara) tercatat mencapai 16,83 juta hektare.
 
Pada tahun 2024, produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional mencapai 45,44 juta ton dengan produktivitas rata-rata 3,5 ton per hektare. Pada tahun yang sama, empat provinsi menjadi kontributor terbesar produksi sawit nasional.
 
Provinsi Riau mencatat produksi tertinggi, yakni sebesar 9,14 juta ton, disusul Kalimantan Barat (Kalbar) dengan produksi 4,96 juta ton, Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan produksi 7,46 juta ton, serta Kalimantan Timur (Kaltim) yang jumlah produksinya 3,90 juta ton.
 
Memasuki tahun 2025 (angka sementara), menunjukkan tren peningkatan produksi nasional meningkat menjadi 46,55 juta ton (CPO) dengan produktivitas rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare. Riau tetap menjadi kontributor terbesar dengan produksi 9,46 juta ton.
 
Dibuntuti oleh Kalbar dengan produksi 4,94 ton, Kalteng mencatat produksi 7,59 juta ton, serta Kaltim sebesar 4,29 juta ton. Peningkatan produksi tersebut kian menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
 
Dari sisi perdagangan global, pada tahun 2024 volume ekspor sawit Indonesia tercatat sebesar 32,34 juta ton dengan nilai mencapai 22,85 miliar dolar AS.
 
Sementara itu, pada tahun 2025, volume ekspor meningkat menjadi 36,37 juta ton dengan nilai 28,50 miliar dolar AS. Kenaikan ini menunjukkan peran strategis sawit dalam memperkuat neraca perdagangan dan kontribusinya terhadap devisa negara.
 
Adapun Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menyebutkan bahwa kelapa sawit memiliki produktivitas minyak per hektare yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya. 
 
“Hilirisasi menjadi strategi penting agar sawit tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas oleh pekebun, pelaku usaha, dan masyarakat,” jelas Roni.
 
Roni juga menekankan pentingnya penguatan sertifikasi dan praktik budidaya berkelanjutan, termasuk percepatan peremajaan sawit rakyat untuk menjaga produktivitas kebun.
 
"Upaya ini dilakukan guna meningkatkan daya saing sawit Indonesia di pasar global sekaligus menjawab berbagai tantangan isu lingkungan," tukas Roni.
 
 

Related News