Waspadai Penyakit Lato-Lato Pada Hewan Ternak
Jagad Tani - Penyakit lato-lato atau Lumpy Skin Disease (LSD) merupakan penyakit menular pada sapi dan kerbau yang disebabkan oleh infeksi Lumpy Skin Disease Virus (LSDV). Virus ini termasuk dalam genus capripoxvirus dan famili Poxviridae. Meski sangat menular pada ternak, penyakit ini tidak menginfeksi manusia.
Penyakit ini ditandai dengan munculnya bentol atau nodul pada kulit sapi yang menyerupai mainan lato-lato. Masa inkubasi biasanya berlangsung 4 hingga 14 hari setelah infeksi, namun dalam beberapa kasus dapat mencapai 28 hari.
Baca juga: Rahasia Ikan Mas Koki Sehat dan Cerah
Gejala Bervariasi, dari Ringan hingga Berat
Menurut Guru Besar Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. drh. Widya Asmara, SU., Ph.D., menjelaskan bahwa gejala LSD sangat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.
Gejala awal umumnya berupa demam tinggi dengan suhu tubuh mencapai 40-41 derajat Celcius. Hewan juga dapat mengalami keluarnya ingus dan leleran dari mata. Tanda paling khas adalah munculnya nodul atau benjolan berdiameter 2-5 sentimeter yang tersebar di leher, punggung, perineum, ekor, tungkai, hingga organ genital dan ambing.
“Nodul tersebut kemudian akan nekrosis dan meninggalkan luka yang dalam. Selain gejala pada kulit, biasanya dapat juga diikuti gejala pneumonia dengan lesi di mulut dan saluran pernapasan,” ungkap Widya melalui keterangan tertulisnya di UGM, dikutip Senin (02/03) .
Dalam kondisi parah, benjolan bisa pecah dan mengeluarkan nanah. Sapi juga dapat mengalami penurunan nafsu makan, penurunan berat badan drastis, pembengkakan kelenjar getah bening, kepincangan, hingga gangguan pernapasan. Pada sapi perah, produksi susu dapat berhenti. Kasus berat, terutama pada anak sapi atau ternak dengan daya tahan tubuh lemah, berisiko menyebabkan kematian.
Secara umum, angka kesakitan (morbiditas) dapat mencapai sekitar 10%, sedangkan angka kematian (mortalitas) berkisar 1-3%, tergantung kondisi ternak dan keberadaan serangga penular.
Penularan Melalui Serangga dan Kontak Langsung
Virus LSD terutama ditularkan melalui serangga penghisap darah seperti lalat, nyamuk, kutu, dan caplak. Serangga ini membawa virus dari hewan terinfeksi ke hewan sehat melalui gigitan.
Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan darah, air liur, susu, atau cairan dari lesi kulit hewan sakit. Selain itu, peralatan kandang, jarum suntik, pakan, minuman, serta pakaian pekerja yang terkontaminasi dapat menjadi media penularan tidak langsung.
Penularan dari induk ke anak melalui kebuntingan atau susu juga dimungkinkan, meskipun kasusnya tidak sering ditemukan.
Belum Ada Obat Khusus, Vaksin Jadi Andalan
Hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus untuk mengatasi LSD. Penanganan yang dilakukan bersifat suportif, seperti pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder, obat penghilang rasa sakit agar ternak tetap mau makan, serta perawatan luka pada lesi kulit.
Melansir dari Halodoc, Vaksinasi menjadi langkah pencegahan paling efektif, terutama bagi sapi yang belum terinfeksi. Program vaksinasi massal terus digencarkan pemerintah untuk menekan penyebaran penyakit.
Selain vaksinasi, langkah pencegahan lain meliputi pengendalian serangga penular, penerapan biosekuriti ketat di kandang, menjaga kebersihan lingkungan, membatasi lalu lintas ternak, serta segera mengisolasi hewan yang menunjukkan gejala.
Disinfeksi kandang dan peralatan juga penting dilakukan menggunakan larutan seperti formalin, natrium hipoklorit, atau senyawa yodium sesuai anjuran.
Daging Ternak yang Terkena LSD
Melalui laman Halodoc, dituliskan bahwa untuk daging ternak, bagian yang terdapat lesi atau nodul harus dibuang dan dimusnahkan. Daging yang tidak terkena lesi masih dapat dikonsumsi setelah dimasak dengan pemanasan sempurna. Namun, karkas dari hewan dengan kasus akut atau parah tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.
Selain berdampak pada kesehatan ternak, LSD juga menimbulkan kerugian ekonomi. Sapi yang sembuh biasanya meninggalkan bekas luka permanen pada kulit sehingga menurunkan kualitas fisik dan harga jual di pasaran.
Oleh karena itu, deteksi dini, pelaporan cepat kepada dinas peternakan, serta penerapan pencegahan menyeluruh menjadi kunci untuk melindungi kesehatan ternak dan keberlanjutan usaha peternakan.

