• 2 March 2026

Waspadai Serangan Mata Kodok Pada Tanaman Selada

uploads/news/2026/03/waspadai-serangan-mata-kodok-396130a0634c2dd.jpeg

Jagad Tani - Penyakit mata kodok menjadi salah satu ancaman serius dalam budidaya selada, terutama saat musim hujan dengan tingkat kelembapan tinggi. Penyakit ini dikenal karena menimbulkan bercak-bercak pada daun yang kemudian berlubang, menyerupai pola mata kodok.

Menurut Erry Silalahi, pemilik dari Hidrotan (Hidroponik Tangerang Selatan), menjelaskan bahwa penyakit mata kodok merupakan penyakit yang menyerang tanaman saat musim hujan yang disebabkan oleh serangan jamur.

Baca juga: Rahasia Ikan Mas Koki Sehat dan Cerah 

“Mata kodok tuh kayak hama, yang adanya di musim hujan, dan biasanya muncul karena kondisi lembap,” ujarnya kepada Jagad Tani.

Menurutnya, penyakit mata kodok umumnya berkembang saat curah hujan tinggi atau sirkulasi udara kurang baik. Kelembapan yang berlebih menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan jamur pada daun selada.

Gejala awal terlihat dari bercak kecil pada permukaan daun. Dalam waktu singkat, bercak tersebut melebar dan membentuk lubang. Jika tidak segera ditangani, penyebarannya cepat karena bersifat menular antar tanaman.

“Kalau satu kena dan tidak segera ditangani, bisa menyebar ke meja tanam lainnya. Kemarin 12 meja tanam saya hancur, karena terkena mata kodok, akhirnya saya babat semua,” jelasnya.

Penanganan awal yang dilakukan petani adalah dengan memangkas atau membuang daun (rempes) yang terinfeksi agar tidak menular ke daun sehat. Selain itu, penyemprotan fungisida dilakukan untuk menekan perkembangan jamur.

“Daun yang kena harus dibuang. Karena dia menular,” katanya. 

Namun, jika serangan sudah parah dan menyebar luas, tanaman sering kali tidak bisa diselamatkan. Dalam kasus tertentu, bahkan menurut Erry, seluruh tanaman di satu meja tanam terpaksa dimusnahkan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Kasus mata kodok menunjukkan bahwa budidaya selada, termasuk sistem hidroponik, tetap rentan terhadap penyakit berbasis lingkungan. Meski tidak menggunakan tanah, faktor kelembapan dan sirkulasi udara tetap menjadi penentu utama kesehatan tanaman.

Pengendalian kelembapan, pengaturan jarak tanam, serta pemantauan rutin kondisi daun menjadi langkah penting untuk mencegah kerugian besar.

“Tanaman juga seperti manusia. Coba kalau misalkan kaki terus-terusan dalam kondisi lembap, pasti kan juga ada jamurnya,” pungkasnya.

Related News