Tradisi Melemang, Kuliner Warisan Budaya Penyambut Lebaran
Jagad Tani - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di berbagai wilayah di Sumatra biasanya melalukan tradisi melemang, yaitu kegiatan memasak lemang secara bersama-sama.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari persiapan kuliner Lebaran, tetapi juga mencerminkan nilai sejarah, budaya, dan kebersamaan yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Rekomendasi Kota Buah di Jalur Mudik Lebaran
Di sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan, dan Jambi, tradisi melemang biasanya dilakukan satu hari sebelum Idul Fitri. Kegiatan ini bahkan menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadan.
Dari pagi-pagi hari bahan-bahan biasanya sudah disiapkan, mulai dari beras ketan, santan, hingga bambu sebagai wadah untuk memasak. Lemang dimasak dengan cara dipanggang selama empat hingga enam jam di atas bara api hingga matang sempurna.
Di desa Mandiangin, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun misalnya, hampir seluruh warganya ikut serta dalam kegiatan ini, meskipun di wilayah perkotaan tradisi tersebut mulai berkurang intensitasnya.
"Sudah menjadi tradisi dari zaman Nenek Buyut kami sejak dulu, kalau sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri kami memasak Lemang untuk disantap bersama keluarga," ungkap Hasbiana warga asal Mandiangin kepada Jagad Tani, Kamis pagi (19/03).
Secara historis, lemang diyakini berasal dari tradisi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Hal ini tertulis dalam jurnal "Perancangan Media Informasi Sejarah Dan Tradisi Malamang Di Kabupaten Padang Pariaman" yang ditulis Andre Firmansyah dari Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual, Institut Seni Indonesia Padang Panjang, bahwa tradisi memasak lemang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan berkaitan dengan penyebaran Islam di Nusantara.
Tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh syekh Burhanuddin pada abad ke-17 Masehi dalam upaya memperkenalkan makanan yang halal dikonsumsi menurut ajaran Agama Islam. Ia menganjurkan penggunaan bambu yang dilapisi daun pisang untuk memastikan makanan tetap bersih dan halal saat disajikan kepada masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, metode ini berkembang menjadi tradisi kuliner yang identik dengan momen keagamaan seperti Ramadan dan Idul Fitri. Jenis-jenisnya pun ada yang berupa Lemang Tapai, Lemang Ketan, hingga Lemang Pisang.
Tradisi melemang bukan hanya sekadar aktivitas memasak. Dalam praktiknya, kegiatan ini sarat makna sosial, seperti mempererat silaturahmi dan memperkuat hubungan antarwarga. Lemang yang telah matang biasanya dibagikan kepada keluarga dan tetangga sebagai simbol kebersamaan.
Selain itu, di beberapa daerah, tradisi ini juga memiliki fungsi unik. Misalnya, jumlah lemang yang dibawa oleh setiap keluarga dapat digunakan untuk mendata jumlah anggota keluarga dalam suatu komunitas.
Meski menghadapi tantangan modernisasi, tradisi melemang masih bertahan di berbagai daerah. Bahkan, di beberapa tempat, kegiatan ini berkembang menjadi acara tahunan yang menarik perhatian masyarakat luas dan wisatawan.
Bahkan di Jakarta, terutama di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Kramat Raya ke arah Salemba, para pedagang nampak berjejeran di pinggir jalan menjajakan Lemang atau Lamang beserta kuliner khas Sumatera Barat.
Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan kehidupan yang diberikan, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur dengan nilai sejarah yang panjang dan makna sosial yang kuat, saat merayakan Idul Fitri.
