• 25 March 2026

Eskalasi Konflik Global, 45Juta Orang Terancam Kelaparan

uploads/news/2026/03/eskalasi-konflik-global-45juta-35323ebb524a560.jpg

Jagad Tani - Ancaman krisis pangan global kembali menghantui dunia. Laporan terbaru dari World Food Programme (WFP) memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut pada 2026.

Konflik berkepanjangan dan harga energi dunia hampir 45 juta orang, diperkirakan bisa jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut. Situasi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan menjadi isu global yang menentukan stabilitas ekonomi dan sosial suatu negara.

Baca juga: Pantauan Harga Komoditas Pangan di Banggai Kepulauan

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa dunia saat ini memang sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius sehingga setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak bergantung pada negara lain.
 
“Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” ujarnya.
 
Kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta meningkatnya biaya logistik berpotensi memicu inflasi pangan global seperti yang pernah terjadi saat perang Rusia–Ukraina pada 2022.
 
Adapun dampak konflik tidak hanya dirasakan di kawasan perang, tetapi merambat ke seluruh dunia melalui rantai pasok global. Negara-negara yang bergantung pada impor pangan menjadi paling rentan menghadapi lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.
 
“Kalau terjadi krisis global, terlebih permasalahan geopolitik dari Iran versus Amerika dan Israel, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” terang Amran.
 
Di tengah ancaman krisis pangan global tersebut, Indonesia dinilai berada pada jalur kemandirian pangan. Program pembangunan pertanian yang dijalankan saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi membangun sistem pertanian yang kuat. 
 
“Kita harus optimis. Indonesia punya lahan, air, iklim, dan sumber daya manusia. Kalau semua dimaksimalkan, swasembada bukan mimpi, lumbung pangan dunia juga bukan hal yang mustahil, salah kalau kekuatan ini kita biarkan,” tegasnya.
 
Strategi peningkatan produksi melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi secara bersamaan, hasilnya sudah terlihat pada tahun 2025 di mana Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan.
 
Intensifikasi dilakukan melalui peningkatan produktivitas lahan dengan benih unggul, mekanisasi pertanian, pompanisasi, serta peningkatan indeks pertanaman. Sementara ekstensifikasi dilakukan melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa sebagai sumber produksi baru.
 
“Mandiri mutlak, swasembada mutlak. Kita tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan yang ada, tetapi juga membuka lahan baru melalui cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa. Semua harus kita optimalkan. Produksi harus naik secara signifikan,” sambungnya.
 
Adapun langkah utama yang menjadi pilar swasembada pangan yaitu deregulasi dan transformasi pertanian dari tradisional menuju modern. Kedua langkah ini dinilai menjadi kunci keberlangsungan produksi pertanian nasional di tengah tantangan global.
 
“Kita tidak boleh takut krisis pangan global. Justru ini momentum Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri pangan dan menjadi lumbung pangan dunia, kita putar dunia,” pungkasnya.

Related News