• 31 March 2026

Tiga Langkah Indonesia Hadapi Krisis Pangan

uploads/news/2026/03/tiga-langkah-indonesia-untuk-84422493f5f4f38.jpeg

Jagad Tani - Akibat perang Iran–Israel dan Amerika Serikat, serta perang Ukraina dan Rusia yang belum mereda, membuat tekanan harga pangan dunia akan terus naik dan menjadi ancaman serius terhadap kondisi pangan global.

Dua perang ini bisa menjadi bencana serius dalam hal keseimbangan pangan global. Program MDGs  yang disepakati oleh 189 negara anggota PBB, dinilai gagal mengatasi kelaparan pangan global dan setidaknya ada 1 miliar penduduk bumi yang terancam kelaparan.

Baca juga: Prediksi El-Nino Godzila, Awas Stok Pangan Nasional

Adapun target SDGs ke-2 pada 2030, yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan gizi, serta mendorong pertanian berkelanjutan, tampaknya akan terancam gagal untuk kali kedua karena perubahan ekstrem peta pangan global.

“Artinya dunia gagal mengatur perputaran pangan global. Adanya perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat semakin tinggi ketidakpastian global sehingga negara produsen pangan berprinsip menahan pangan untuk mereka sendiri,” papar Anggota Komisi IV DPR RI Riyono, dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin (30/03).

Menurut Riyono, kegagalan global dalam distribusi pangan mengakibatkan harga pangan dunia naik, ketersediaan menurun, dan permintaan tinggi. Komoditas pangan berubah menjadi komoditas politik yang sering merugikan petani.

“Pangan dan energi sebagai instrumen dasar manusia berubah menjadi senjata mematikan untuk menguasai bahkan menjajah suatu negara atas nama impor, sedangkan produsen utamanya, yaitu petani dan negaranya, masih tetap miskin dan menderita,” tambahnya.

Demi memastikan pangan di Indonesia aman, Riyono menyampaikan tiga poin yang harus dilakukan. Pertama, menghadapi kondisi global saat ini yang cenderung menuju krisis, Indonesia harus memfokuskan ketersediaan pangan sebagai fondasi utama kedaulatan pangan.

“Cadangan pangan berupa beras yang sudah tembus 4 juta ton harus dijaga kualitas dan manajemen pengelolaannya,” terangnya

Kedua, yakni perlindungan kepada petani sebagai produsen pangan dengan skema insentif harga produk pertanian yang baik. Harga Gabah Kering Panen (GKP) dan jagung yang sudah baik harus tetap dipertahankan, dan perlu ditambah dengan asuransi hasil pertanian guna menghadapi risiko kemarau panjang.

Ketiga yaitu menjaga anggaran sektor pertanian dan perikanan agar tidak dikenakan efisiensi. Menurutnya anggaran pertanian sebesar Rp60 triliun jangan sampai dipotong, dikarenakan ketahanan pangan dan protein ada di sektor ini. Jika diperlukan, anggarannya harus ditambah demi mengantisipasi krisis pangan dunia.

“Ketiga langkah di atas akan mampu melindungi Indonesia dari krisis pangan. Rakyat jangan sampai mendapatkan harga pangan mahal karena imbas perang dan ketidakpastian global ini. Tugas negara hadir dan memastikan pangan sampai ke meja makan rakyat di pedesaan dan pelosok terluar bangsa ini,” tukasnya.

Related News