Peluang Usaha Microgreen, Jumlah Sedikit Harga Selangit
Jagad Tani - Budidaya sayur microgreen semakin menunjukkan potensi besar di tengah meningkatnya kebutuhan pasar akan bahan pangan premium dan sehat seperti Pea shoot (pisut), Brokoli, Mustard, Choy sum hingga Red radish.
Hal ini diungkapkan oleh Andrian Prayoga, Supervisor sekaligus koordinator microgreen dan hidroponik di Sayur Mini Microgreen. Menurutnya, perawatan microgreen tergolong sangat mudah jika dibandingkan tanaman lain.
Baca juga: Sayur Mini: Inovasi Pertanian Modern Bernilai Tinggi
“Tidak ada perlakuan khusus. Cukup menabur benih di media tanam, lalu disiram setiap pagi atau sore. Dalam waktu sekitar tujuh hari sudah bisa dipanen,” ujar Andrian saat ditemui oleh tim Jagad Tani.
Meski sebagian besar jenis microgreen memiliki perlakuan yang sama, terdapat satu jenis yang memerlukan penanganan khusus, yaitu pisut atau kacang polo. Untuk jenis ini, benih perlu direndam terlebih dahulu selama 12 hingga 24 jam sebelum disemai.
“Perendaman ini bertujuan membuka pori-pori benih agar proses perkecambahan bisa lebih seragam,” jelas pria yang juga menangani operasional, pengiriman, dan pengadaan barang di Sayur Mini ini.
Dalam proses budidaya, menjaga kelembapan media tanam menjadi kunci utama. Media tidak boleh terlalu basah maupun terlalu kering. Jika terlalu basah, jamur dapat muncul dan menyebabkan benih membusuk.
“Jamur biasanya menyerang benih yang tidak tumbuh akibat kondisi terlalu lembap, lalu bisa menyebar dan menyebabkan gagal semai,” tambah Andrian.
Namun, jika proses penyemaian berjalan dengan baik tanpa jamur, tingkat keberhasilan panen bisa mencapai sekitar 80% setelah memasuki tahap pertumbuhan dengan pencahayaan.
Proses penyemaian dan pertumbuhan dilakukan di ruang terpisah, dengan sistem pengaturan suhu menggunakan AC serta lampu untuk mendukung fotosintesis, sehingga tidak terlalu terpengaruh kondisi cuaca luar.
Dalam satu kali panen, produksi microgreen di Sayur Mini Microgreen rata-rata mencapai sekitar 1,2 kilogram per hari untuk semua jenis. Dari berbagai varian yang tersedia, jenis pisut dan brokoli menjadi yang paling diminati konsumen.
Untuk pemasaran, produk microgreen dikemas dalam dua ukuran, yaitu 50 gram dan 40 gram. Kemasan 50 gram umumnya ditujukan untuk kebutuhan restoran dan hotel, dengan harga sekitar Rp35.000.
Sementara kemasan 40 gram yang dipasarkan dengan sistem konsinyasi dibanderol sekitar Rp14.500 dari Sayur Mini selaku tangan pertama sedangkan harga berikutnya tergantung outlet.
Distribusi produk saat ini didominasi wilayah Jabodetabek, namun juga menjangkau daerah lain seperti Semarang. Andrian menyebut, lonjakan permintaan biasanya terjadi menjelang tahun baru dan bulan Ramadan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya meningkatkan produksi hingga dua kali lipat sejak dua minggu sebelum bulan Ramadan ataupun tahun baru.
“Kalau biasanya produksi harian 10 wadah tanam, menjelang momen tertentu bisa kita tingkatkan jadi 20 wadah. Jadi kita sudah siap sebelum permintaan memuncak,” tutupnya.
