• 16 April 2026

Rehabilitasi Sawah Pascabencana di Padang Pariaman Lambat

uploads/news/2026/04/rehabilitasi-sawah-pascabencana-di-563605b5f5374c1.jpeg

Jagad Tani - Lambatnya penanganan sawah terdampak bencana di Desa Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (14/04) menjadi sorotan.

Hal tersebut menjadi sorotan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, padahal anggaran rehabilitasi telah tersedia sejak awal tahun, dan proses pemulihan di lapangan dinilai belum berjalan optimal.

Baca juga: Sumedang Serius Kembangkan Mangga dan Cabai

“Anggaran sudah ada sejak Januari di provinsi. Kami minta provinsi dan kabupaten segera kolaborasi menyelesaikan dalam waktu singkat. Tapi yang kami lihat di lapangan masih lambat,” ungkap Amran.

Menurutnya, pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran besar untuk pemulihan di wilayah terdampak. Untuk rehabilitasi sawah rusak seluas sekitar 7.000 hektare di Sumatera Barat, seluruh pembiayaan menjadi tanggung jawab pemerintah.

“Khusus Sumatera Barat, bantuan dari Kementerian Pertanian mencapai Rp455 miliar. Jadi tidak ada alasan untuk lambat,” terangnya.

Amran menilai lambannya penanganan lebih disebabkan oleh rantai birokrasi yang terlalu panjang serta lemahnya komunikasi antarlevel pemerintahan. Padahal, pencairan anggaran dari pusat telah dilakukan secara cepat begitu permintaan daerah disampaikan.

“Pusat begitu ada permintaan langsung kami cairkan. Tapi di bawah ini mungkin masih berproses terlalu lama. Ini yang harus diperbaiki,” sambungnya.

Melihat kondisi tersebut, Amran memberikan peringatan kepada jajaran pemerintah daerah (Pemda) agar segera mempercepat pekerjaan di lapangan, dan meminta seluruh proses rehabilitasi sawah dapat diselesaikan dalam waktu maksimal satu bulan.

“Tadi sudah berjanji satu bulan selesai. Kalau tidak serius, bantuan berikutnya saya tarik kembali ke pusat dan kita pindahkan ke daerah yang lebih siap,” tegasnya.

Bahkan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian petani baru mulai menggarap sawah pada hari kunjungan berlangsung. Hal ini semakin memperkuat indikasi lambatnya respon penanganan pascabencana.

“Jangan sampai alat berat turun hanya saat kita datang. Ini tidak boleh terjadi lagi. Kita ini pelayan rakyat, tugas kita memastikan mereka bisa segera kembali tanam dan berproduksi,” tukasnya.

Related News