• 19 April 2026

Tiga Lapisan Pangan Indonesia, Hadapi Krisis

uploads/news/2026/04/tiga-lapisan-pangan-indonesia--402155105c00480.jpeg

Jagad Tani - Eskalasi konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah terus menambah kekhawatiran dunia terhadap kestabilan pangan, sebab penutupan jalur logistik dapat menimbulkan ketidakpastian perdagangan internasional.

Hal tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga pangan di tingkat global. Bahkan Rusia telah menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS sebagai langkah untuk mengatisipasi risiko krisis pangan.

Baca juga: Forum Bisnis Indonesia China Bahas Ekspor Walet

Menghadapi situasi tersebut, Indonesia justru memiliki tiga lapisan ketersediaan pangan, yaitu Cadangan Beras Pemerintah (CBP), ketersediaan beras di pasar domestik dan HoReCa, serta proyeksi produksi standing crop hingga akhir tahun.

Saat ini di Perum Bulog CBP tercatat sekitar 4,7 juta ton, dan tengah bergerak menuju angka 5 juta ton. Di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering), ketersediaan beras tercatat mencapai 12 juta ton.

Adapun potensi standing crop diproyeksikan akan terus berkontribusi pada jumlah produksi hingga akhir tahun. Ketiga lapisan ketersediaan tersebut menjadi fondasi untuk mencukupi kebutuhan pangan Indonesia hingga 11 bulan ke depan.

“Dengan swasembada pangan, kita aman. Kita tidak boleh lagi bergantung pada sumber dari luar negeri. Dalam krisis global, tidak ada negara yang akan rela melepas pangannya ke luar negeri,” ujar Presiden Prabowo saat Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Rabu (22/01/2025) lalu.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia telah mengambil langkah antisipatif jauh sebelum tekanan global menguat, sesuai arahan langsung Presiden.

“Sejak awal, Presiden sudah menekankan pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan. Ini menjadi langkah strategis untuk menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Amran dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (15/04).

Lebih lanjut Amran menilai dinamika geopolitik global saat ini semakin menegaskan pentingnya setiap negara memiliki cadangan pangan yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan. Sehingga tidak bergantung pada rantai pasok global yang sedang terganggu.

“Dunia saat ini dihadapkan pada ketidakpastian. Bisa karena konflik, bisa karena kebijakan negara lain yang membatasi ekspor. Karena itu, kita harus memastikan produksi dalam negeri kuat dan cadangan kita cukup,” tukasnya.

Related News