Harga Kedelai Pantau Ketat, Tahu-Tempe Aman
Jagad Tani - Demi menjaga agar para pengrajin tahu dan tempe agar tidak terlalu tertekan, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemerintah terus berkoordinasi intensif dengan importir kedelai.
Sehingga perkembangan harga kedelai terus dipantau, dan pasokan kedelai dari importir dipastikan patokan harganya berada dalam rentang harga yang diatur dan masih wajar, sesuai ketentuan Harga Acuan Penjualan (HAP).
Baca juga: Forum Bisnis Indonesia China Bahas Ekspor Walet
"Kami intensif berkoordinasi dengan teman-teman importir. Bagaimana kondisinya saat ini, artinya naiknya tapi masih tidak terlalu signifikan dan dalam kategori sangat wajar," terang Ketut dalam keterangannya, dikutip Kamis (16/04).
Berdasarkan informasi Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAKOPTINDO), Harga kedelai per 13 April di DKI Jakarta paling tinggi mencapai Rp11.000/Kg dan paling rendah di harga Rp10.500/Kg. Rerata harga kedelai di Regional Jawa berada di Rp10.555/Kg.
Untuk Regional Sumatera berada di rerata harga Rp11.450/Kg. Rerata harga kedelai di Regional Sulawesi pun tak jauh berbeda yakni di Rp11.113/Kg. Sementara rerata harga di Bali-NTB dan Kalimantan masing-masing berada di Rp10.550/Kg dan Rp10.908/Kg.
"Harga kedelai paling rendah itu Rp10.500 sampai Rp11.000 di Jakarta. Itu harga di tingkat pengrajin tahu tempe. Memang ada yang Rp12.000, itu di Aceh dan Sumut. Namun sebenarnya kondisi harga kedelai di pengrajin tahu tempe ini masih sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan," sambungnya.
Ketentuan harga kedelai telah diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024. HAP di tingkat konsumen atau pengrajin tahu dan tempe maksimal Rp11.400/Kg untuk kedelai lokal. Sementara HAP kedelai impor maksimal di Rp12.000Kg dengan asumsi harga kedelai di tingkat importir Rp11.500/Kg.
"Kami sudah memastikan ke importir untuk menjaga agar harga acuan dipastikan diberlakukan. Jangan sampai menaikkan melebihi harga acuan. Kami perintahkan, kami minta," ucap Ketut.
Ketut melanjutkan jika pemerintah berkomitmen menjaga harga kedelai sampai di tingkat pengrajin tahu dan tempe. Tatkala harga kedelai telah melampaui HAP tingkat konsumen di Rp12.000/Kg, tentu akan diintervensi.
"Nah sekarang yang kita harus jagain adalah harga acuan di tingkat pengrajin itu Rp 12.000/Kg. Ini harus kita jaga dan jangan dilewati. Tatkala melewati Rp 12.000, maka pemerintah akan melakukan intervensi. Sekali lagi, kita jaga bareng. Harga saat ini sebagian besar masih bawah Rp 12.000," pungkas Ketut.
Dalam Proyeksi Neraca Pangan Kedelai Tahun 2026, proyeksi produksi kedelai dalam negeri diestimasikan di angka 277,5 ribu ton. Sementara kebutuhan konsumsi kedelai setahun mencapai 2,74 juta ton, mayoritas untuk kebutuhan pengrajin tahu dan tempe nasional.

