• 18 April 2026

Pengembangan Lahan Tebu 2026 Tembus 97.970 Hektare

uploads/news/2026/04/pengembangan-lahan-tebu-2026-2786381160396ff.jpg

Jagad Tani -  Percepatan pengembangan kawasan tebu seluas 97.970 hektare pada tahun 2026 menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan swasembada gula nasional.

Ali Jamil selalu Plt. Direktur Jenderal Perkebunan menegaskan bila seluruh tahapan penting masih terus dipacu, agar penerapan di lapangan bisa berjalan tepat waktu.

Baca juga: Depot Sayur Sejahtera, dari Punk ke Pangan

“Kami berharap percepatan pengembangan kawasan tebu ini tidak hanya mampu meningkatkan produksi dan rendemen gula nasional, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani,” ucapnya melalui keterangan tertulis, dikutip Sabtu (18/04).

Pengembangan kawasan tebu tahun 2026 ditargetkan seluas 97.970 hektare dengan dukungan APBN sebesar Rp1,3 triliun, dan tersebar di sejumlah provinsi, dengan Jawa Timur sebagai lokasi utama, disusul Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, 

Adapun pengembangan yang dilakukan di wilayah luar Jawa berada di provinsi Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Sementara Banten menjadi lokus pengembangan baru.

Untuk menjamin percepatan, Kementan menargetkan penyelesaian Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) paling lambat pertengahan Mei 2026, sebelum musim giling dimulai pada 17 Mei, agar siklus tanam, tebang, dan produksi gula berjalan optimal.

Di hulu, pengadaan benih dipercepat melalui pengoptimalan kontrak dan pemanfaatan sumber benih yang tersedia, serta menyinkronkan jadwal tanam dengan periode tebang dan giling yang berlangsung Mei hingga November 2026.

Bahkan, perluasan areal telah didorong lebih awal sejak April guna mengamankan capaian target tanam. Demi mengantisipasi risiko iklim, termasuk potensi El Nino, juga disiapkan penyediaan sumber air dan pompanisasi guna mencegah kekeringan.

Di hilir, sinergi lintas sektor terus diperkuat. Kementan menggandeng BUMN, khususnya PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), bersama pelaku usaha dan pabrik gula swasta untuk memastikan konsolidasi program berjalan efektif di lapangan.

Selain itu, seluruh pihak didorong untuk mempercepat finalisasi CPCL, memastikan kejelasan status lahan, serta memperkuat koordinasi dan monitoring kesiapan lahan, benih, dan jadwal tanam.

Upaya mitigasi juga dilakukan secara terencana melalui pemetaan potensi kendala dan penyusunan langkah antisipatif yang terukur.

Related News