Harga Plastik Naik, Gula dan Beras Siap-Siap
Jagad Tani - Gejolak geopolitik di Timur Tengah dengan penutupan Selat Hormuz, berdampak pada pasokan bahan baku plastik di dalam negeri yang sedang tidak stabil dan turut merambah pada kenaikan harga di tingkat pelaku usaha pangan.
Kenaikan harga terjadi akibat naiknya biaya logistik dan freight (kargo) pelabuhan, serta pengenaan surcharge (biaya tambahan) premium. Selain itu, terdapat gangguan waktu pengiriman bahan baku dari luar negeri yang sebelumnya sekitar 15 hari, saat ini bisa menjadi 50 hari, sehingga berkontribusi pada beban biaya produksi.
Baca juga: Nilai Ekspor CPO Melonjak, Indonesia Rajai Sawit
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas), para pelaku usaha bidang beras dan gula saat ini cukup terdampak karena mereka membutuhkan kemasan karung plastik.
"Dengan adanya gejolak geopolitik, memang ada beberapa sedikit yang mengalami kenaikan. Salah satunya plastik," ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, melalui keterangan resminya pada Jumat (17/04).
Lebih lanjut, ia menjelaskan hal tersebut dikarenakan biji plastik (waste-nya) yang bahan bakunya berbasis minyak, sebagian besar dipasok dari kawasan Timur Tengah terhambat, sehingga berdampak pada harga plastik.
Menurutnya, melalui pertemuan dengan para pelaku usaha pangan sektor beras dan gula terungkap bahwa dengan kurangnya pasokan plastik, berpengaruh pada penyesuaian harga yang harus dilakukan ke pelaku usaha.
"Teman-teman pelaku usaha menyampaikan kalau di beras itu Rp350 per kilogram. Kalau di gula sekitar Rp150 per kilogram, artinya cukup berdampak dan ini yang harus kita jaga benar-benar untuk ke depannya," ungkap Ketut.
Dalam sebulan terakhir, perkembangan rerata harga beras dan gula bergerak naik hingga 5-10%. Meski demikian, per 16 April rerata harga beras medium terpantau masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Adapun dalam sebulan terakhir, rerata harga beras medium Zona I dari Rp12.964 per kg naik ke Rp12.965 per kg (berfluktuasi 0,01%). Zona II dari Rp13.585 per kg ke Rp13.622 per kg (naik 0,27%). Zona III dari Rp15.056 per kg ke Rp15.154 per kg (naik 0,65%).
Sementara itu, untuk kondisi rerata harga gula secara nasional dalam sebulan terakhir mencatatkan fluktuasi, akan tetapi terjadi penurunan di wilayah Indonesia Timur.
Rerata harga gula di wilayah selain Indonesia Timur sebulan lalu tercatat di Rp18.240 per kg. Kemudian per 16 April berada di Rp18.615 per kg atau berubah 2,06%. Namun di Indonesia Timur gula menurun 1,22% dari sebulan lalu yang Rp20.412 per kg ke Rp20.163 per kg.
"Kami juga merencanakan rapat besar, artinya dengan kementerian lembaga terkait, untuk mencarikan solusi, karena pengaruh Rp350 memang terasa kecil, tapi berdampak karena per kilonya jadi naik," tukas Ketut.

