• 22 April 2026

Penangkapan Sapu-Sapu Saja Belum Efektif, Ini Strateginya

uploads/news/2026/04/penangkapan-sapu-sapu-saja-belum-926056fe7870b52.jpg

Jagad Tani - Di tengah ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta, penangkapan massal akhirnya dilakukan, namun pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) mengingatkan bila hanya melakukan itu saja, tentu belum cukup efektif.

Charles PH Simanjuntak, seorang pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dari IPB, menyatakan bahwa pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu.

Baca juga: 10 Kandungan Logam Berat pada Ikan Sapu-Sapu

“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ungkapnya pada laman tertulis IPB, dikutip Senin (20/04). 

Menurutnya, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.

“Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen,” paparnya.

Bukan hanya itu saja, ikan ini juga mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi. Ikan ini bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan.

Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).

“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Charles menekankan soal pentingnya kombinasi soal tindakan pengendalian, mulai dari pencegahan, penangkapan secara fisik, dan kontrol biologis.

Untuk pencegahan, Charles menyarankan agar, “Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak.”

Tak hanya itu saja, teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA (eDNA) juga dinilai efektif untuk mendeteksi keberadaan ikan ini sejak awal, sebelum populasinya meledak.

Ketika kondisi populasi ikan sudah tinggi, penangkapan memang diperlukan, akan tetapi harus lebih selektif dan terarah. Menurutnya, penangkapan terhadap ikan berukuran kecil (kurang dari 30 cm) dapat lebih efektif dalam menekan populasi.

Pelibatan masyarakat turut menjadi kunci. Perburuan berbasis komunitas dinilai mampu menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi (masuknya ikan sapu-sapu) dari daerah lain.

“Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” sambungnya.

Sebagai kontrol alaminya, bisa juga dengan pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu, supaya dapat membantu mengendalikan populasi, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu berukuran 0,6–1,0 cm.

“Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar nerpotensi mengandung logam berat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” pungkasnya.

 

Related News