Inilah Predator Alami dari Ikan Sapu-Sapu
Jagad Tani - Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing asal Amerika Selatan, dari perairan Sungai Amazon. Di Indonesia, untuk wilayah DKI Jakarta pada khususnya, ikan ini dikenal sebagai spesies invasif yang populasinya telah menguasai berbagai kali dan bantaran sungai ibu kota.
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” jelas Charles PH Simanjuntak, pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, dalam keterangan tertulis di IPB pada 14 Maret 2026 lalu.
Baca juga: Penangkapan Sapu-Sapu Saja Belum Efektif, Ini Strateginya
Dijelaskan oleh Charles bahwa di habitat asalnya, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).
Adapun untuk ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), melalui animaldiversity.org dijelaskan bahwa ikan ini merupakan spesies ikan laut dalam famili Centropomidae dari ordo Perciformes, dan dapat ditemukan di lingkungan air tawar, payau, atau laut hingga pada kedalaman 22 meter.
Persebarannya mulai dari wilayah pesisir Atlantik, Amerika Serikat hingga Teluk Meksiko dan Karibia, serta sebagian Amerika Tengah dan Selatan. Ikan snook dewasa merupakan predator puncak di lingkungannya, memangsa berbagai spesies ikan pelagis, krustasea, hingga kopepoda.
Untuk ikan Tarpon (Megalops atlanticus) dapat ditemukan di wilayah pesisir yang hangat dan dangkal di Samudra Atlantik bagian timur dan barat. Mulai dari pesisir Amerika Serikat hingga Brasil di Atlantik barat dan dari Senegal hingga Kongo di pantai Atlantik timur, serta Teluk Meksiko, dan di seluruh Karibia.
Ukuran ikan tarpon betina umumnya lebih besar daripada jantan, dan dapat tumbuh hingga panjang 240 cm dan mencapai massa 161 kg. Berdasarkan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya ikan ini memakan makanan yang berbeda, mulai dari Zooplankton (copepoda dan ostracoda), serangga, dan ikan kecil saat masih kecil, hingga menjadi karnivora saat dewasa dengan memakan ikan dan krustasea.
Sementara itu, untuk buaya Spectacled Caiman, dapat ditemukan di sebagian besar wilayah Amerika Tengah dan Selatan. Buaya jantan tumbuh hingga sekitar 2 meter (6,5 kaki), sedangkan betina lebih kecil, biasanya sekitar 1,4 meter (4,5 kaki). Nama spesies ini berasal dari tonjolan tulang di antara mata, yang memberikan penampilan seperti sepasang kacamata.
Melalui crocodilesoftheworld.co.uk, dijelaskan bahwa buaya ini hidup di berbagai habitat lahan basah air tawar, dan cukup mudah beradaptasi, sering mengunjungi badan air buatan manusia, kanal, dll.
Sedangkan untuk burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus) dapat ditemukan di seluruh daerah tropis dan subtropis Amerika, mulai dari tengah Rio Grande dan pantai Teluk hingga California di Amerika Serikat, di selatan bisa ditemukan di Meksiko, Amerika Tengah hingga Amerika Selatan, dan disebut dengan nama asli biguá.
Baca juga: Bukan Cuma Sapu-Sapu, Ada 75 Ikan Invasif di Indonesia
Tentunya keberadaan dari predator-predator tersebut, mampu menjaga keseimbangan populasi ikan sapu sapu di habitat aslinya sehingga tetap terkendali dan tidak mendominasi ekosistem. Berbeda dengan di Indonesia, kealfaan dari predator alaminya membuat ikan yang mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dalam satu siklus perkembangbiakan ini, kian membludak.
Charles, juga menjelaskan soal pemanfaatan teknologi seperti environmental DNA (eDNA) agar mulai dipertimbangkan guna mendeteksi keberadaan ikan ini sejak awal, sebelum populasinya meledak. Bahkan bisa memanfaatan predator alami lainnya seperti ikan baung dan betutu dalam membantu mengendalikan populasi, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu berukuran 0,6–1,0 cm.
“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” tukasnya.

