• 25 April 2026

Perawatan Tanaman Talas Satoimo ala Petani Cianjur

uploads/news/2026/04/perawatan-tanaman-tales-satoimo-45137112e5ae354.jpeg

Jagad Tani - Salah seorang petani di kaki Gunung Gede-Pangrango, tepatnya di Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, yakni Kang Isan, berbagi pengalaman dan tipsnya dalam merawat tanaman talas satoimo yang telah ditekuni selama lima tahun terakhir.

Pembudidayaan tanaman talas satoimo ini, ia lakukan setelah mendapat peluang kerja sama dengan seorang temannya di Jakarta yang sudah mempunyai pemasok. Dalam kerja sama tersebut, ia fokus pada proses budidaya, sementara pemasaran ditangani oleh temannya.

Baca juga: Strategi Kendalikan Hama pada Tanaman Daun Bawang saat Musim Kemarau

Menurutnya, dalam melakukan perawatan terhadap tanaman talas satoimo, tidak bisa dianggap mudah. Meski dalam merawatnya sekilas terlihat mudah, namun tanaman ini membutuhkan perawatan intensif.

“Kalau dibilang gampang ya gampang, tapi juga cepat mati kalau nggak dirawat. Harus dipupuk dan disemprot secara rutin karena ada hamanya,” ujarnya kepada Jagad Tani.

Ia menjelaskan, berbeda dengan talas jenis lain seperti talas Belitung yang cenderung tumbuh liar, talas satoimo justru membutuhkan perhatian khusus, layaknya tanaman sayuran yang lain di lahan tempatnya bekerja.

Adapun proses budidaya talas satoimo dimulai dari umbi yang dijemur hingga kering dan mulai bertunas. Setelah itu, umbi disemai sebelum akhirnya ditanam di lahan dengan jarak tanam sekitar 3–4 sentimeter per lubang.

Untuk hasil optimal, Kang Isan menekankan pentingnya penggunaan pupuk kandang sebagai dasar nutrisi tanaman. “Pupuk kandang itu kunci utama. Harus banyak,” ungkapnya.

Selain itu, pengendalian gulma juga menjadi faktor penting. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman harus rutin dibersihkan agar tidak menyerap nutrisi yang dibutuhkan tales. “Kalau ketutup gulma, pertumbuhannya jadi kurang,” tambahnya.

Disebutkan oleh Kang Isan bahwa serangan hama biasanya akan meningkat saat musim kemarau, ketika kondisi tanah kering dan pasokan air berkurang. Beberapa hama yang umum menyerang antara lain ulat, wereng, serta hama tanah yang merusak umbi.

“Hama di atas daun masih kelihatan dan bisa dibersihkan atau disemprot. Tapi yang di bawah tanah itu yang susah, karena nggak kelihatan. Tahu-tahu pas panen, umbinya bolong dan nggak bisa dijual,” jelasnya.

Untuk pengendalian, ia rutin melakukan pengecekan harian dan penyemprotan sesuai kebutuhan, bukan setiap hari. “Hama itu ada waktunya, jadi harus dipantau terus,” ujarnya.

Tanaman tales satoimo dapat dipanen setelah enam bulan sejak penanaman. Dengan perawatan yang baik,maka hasil panen bisa optimal dan memiliki nilai jual tinggi. 

Ke depan, Kang Isan berharap dapat terus mengembangkan usaha taninya, seperti brokoli, wortel, sawi hijau, hingga talas. Hal ini dikarenakan menurutnya lebih fleksibel dari segi waktu dan tidak terlalu terikat.

“Untuk kedepannya, saya ingin terus menanam sayuran, karena kan (sebagai petani) nggak terlalu terikat waktu,” tutupnya.

Related News