Sawah Bersholawat: Ketika Spiritualitas Jadi Gerakan Penanaman
Jagad Tani - Di tengah ancaman awal musim kemarau dan bayang-bayang tekanan iklim, menariknya, strategi percepatan tanam padi serentak di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur dilakukan melalui gerakan "Sawah Bersholawat".
Sebuah gerakan yang di dalamnya menautkan antara usaha dengan ikhtiar. Percepatan tanam tersebut diarahkan untuk meningkatkan luas tambah tanam (LTT) secara signifikan guna memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga dan mendukung target swasembada pangan.
Baca juga: Puan Ingatkan Soal Mitigasi Kenaikan Minyak Goreng-BBM
Menurut Perwakilan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Wilayah Jawa Timur, Yayu, momentum ini merupakan hal yang telah lama dinantikan oleh para petani.
Lebih lanjut, Yayu menegaskan bahwa petani adalah "gudangnya negara" dan profesi yang sangat mulia. Sebuah kalimat yang ia kutip dari dawuh KH Hasyim Asy'ari, dan menjelaskan jika kegiatan pertanian bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga ramah perempuan.
"Peran perempuan sangat besar, mulai dari proses tanam hingga menyiapkan kebutuhan keluarga. Mari kita serahkan ikhtiar ini kepada Allah SWT, dan insya Allah, Allah akan membantu kita,” tukasnya dalam rilisan resmi, pada Jumat (24/04).
Mengusung tema Sawah Bersholawat Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan, pihak pelaksana yakni Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) menargetkan kenaikan LTT hingga 3,4% dalam satu hari, dan dipusatkan di Kabupaten Ngawi.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BBPOPT sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan (SPB) Jawa Timur, Yuris Tiyanto menegaskan bahwa percepatan tanam harus menjadi gerakan kolektif yang terukur.
“Melalui gerakan hari ini diharapkan kenaikan LTT bisa mencapai 3,4% dalam satu hari atau dua kali lipat dari hari sebelumnya. Ini bukan seremonial, tetapi gerakan yang harus berdampak nyata,” ungkapnya.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) tercatat, luas tanam periode Oktober 2025 hingga Maret 2026 meningkat 9,7%, sementara produksi beras naik lebih dari 2% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
“Kegiatan ini kita dedikasikan untuk menuju Jawa Timur yang makmur. Kita tidak hanya ingin tampil menjadi nomor satu, tetapi harus diiringi dengan peningkatan hasil. Untuk itu kita harus berjamaah, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” sambungnya.
Baginya, Jawa Timur tidak cukup hanya menjadi yang terdepan secara statistik, tetapi juga harus unggul dalam hasil dan keberlanjutan. Kunci utamanya adalah sinergi, lintas instansi, lintas peran, dan lintas kepentingan.
Di saat yang sama, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) diperkuat melalui teknologi digital seperti sistem SIFORTUNA hasil pengembangan BBPOPT, yang memungkinkan prediksi dini terhadap serangan hama, dapat direspons cepat di lapangan.
Sementara itu, Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko mengungkapkan bila sektor pertanian Ngawi mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Produksi padi tahun 2025 tercatat mencapai 772.571 ton Gabah Kering Giling (GKG), dan berkontribusi sekitar 7% terhadap produksi Jawa Timur.
“Ngawi saat ini menjadi salah satu daerah dengan produktivitas tinggi, bahkan menempati peringkat ketiga produksi padi di Jawa Timur setelah Lamongan dan Bojonegoro,” tegasnya.

