• 25 April 2026

Bermetamorfosis, Langkah Sentra Singkong Tajur Majukan Produksi

uploads/news/2026/04/bermetamorfosis-langkah-maju-sentra-111998eada43d93.jpg

Jagad Tani - Sentra pengolahan singkong di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, kini mulai bergerak dari produksi tradisional menuju sistem yang berbasis teknologi, guna meningkatkan kapasitas produksi, mutu, dan daya saing produk pangan lokal.

Menurut Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andriko Noto Susanto, penguatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan pangan nasional.

Baca juga: Gemar Makan Ikan, Cara Bekasi Turunkan Stunting

Bahkan ia menambahkan jika bantuan peralatan yang diberikan oleh Bapanas mencakup mesin parut, pencuci, pengering, hingga sistem penirisan terintegrasi, akan berguna untuk mendukung proses produksi tepung tapioka agar lebih higienis dan efisien.

"Dengan adanya teknologi, ini mengubah produksi (pengolahan) yang sebelumnya sangat bergantung pada metode tradisional, seperti penjemuran di bawah sinar matahari, menjadi proses yang lebih terkontrol," terangnya dalam siaran tertulis, dikutip Jumat (24/04).

Dilanjutkan bahwa dengan mesin pengering, kapasitas produksi dapat mencapai sekitar satu ton per jam atau setara hingga 12 ton per hari, serta kualitas yang lebih seragam dan kinerja yang lebih efisien.

Dalam skema yang dibangun, hasil panen singkong dari petani diserap oleh UMKM untuk diolah menjadi tepung tapioka, kemudian dilanjutkan ke koperasi untuk proses standardisasi, pengemasan ulang, hingga distribusi ke pasar yang lebih luas. 

Lebih lanjut, Andriko menjelaskan bila pengembangan komoditas pangan berbahan singkong merupakan bagian dari upaya mendorong keberagaman pangan.

"Selain beras dan terigu, Indonesia ini memiliki sumber pangan lokal yang melimpah seperti ubi kayu, sorgum, dan sagu yang perlu terus kita dorong pemanfaatannya," terangnya.

Sementara itu Andi, seorang pelaku UMKM yang terlibat dalam pengembangan usaha pengolahan singkong di Desa Tajur, menjelaskan bahwa proses produksi yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih efisien, dengan kualitas hasil yang lebih konsisten.

“Selama ini kebutuhan tepung tapioka cukup tinggi dan digunakan di banyak produk pangan. Dengan pengolahan yang lebih baik, kami optimistis produk dari daerah ini bisa memenuhi kebutuhan pasar dengan kualitas yang lebih terjamin,” ujar Andi.

Adapun Khoirudin, pelaku UMKM yang menerima bantuan alat di Desa Tajur, memaparkan bila penggunaan alat baru telah meningkatkan efisiensi produksi, karena sebelumnya proses pengolahan menggunakan mesin manual dengan kapasitas terbatas.

"Alhamdulillah tadinya memakai mesin diesel yang harus diengkol dan menggunakan solar, ya alhamdulillah sekarang udah otomatis pakai ini pakai dinamo(mesin listrik)," ungkap Khoirudin.

Menurutnya, kapasitas produksi yang sebelumnya hanya berkisar satu hingga dua ton per hari kini dapat meningkat hingga sekitar lima ton, bahkan lebih, tergantung pada ketersediaan bahan baku, sehingga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan usaha dan memperluas pasar.

Related News