• 3 May 2026

Menjaga Indramayu Agar Tetap Menjadi Lumbung Pangan

uploads/news/2026/05/menjaga-indramayu-agar-tetap-91129f491fda89b.jpeg

Jagad Tani - Posisi Kabupaten Indramayu sebagai salah satu lumbung pangan nasional tidak hadir begitu saja. Di balik angka produksi yang tinggi, dukungan sarana dan prasarana pertanian penting dilakukan, guna menjaga keberlanjutan produksi.

Langkah itu tidak lepas dari posisi Indramayu yang selama ini menjadi salah satu penyangga utama produksi pangan, khususnya di Jawa Barat. Berdasarkan data ATR/BPN, sepanjang 2025, daerah ini mencatat jumlah produksi padi sekitar 1,7 juta ton Gabah Kering Panen (GKP) dengan produktivitas mencapai 68,24 kwintal per hektare.

Baca juga: Bertani dari Ketinggian, Bukan di Dataran Tinggi

Jumlah tersebut setara dengan jumlah produksi beras sekitar 900.931 Ton untuk periode Januari-Desember 2025.  Dengan Luas Baku Sawah 124.517 hektare dan Indeks Pertanaman (IP) sebesar 1,8 poin, total luas tanam mencapai 251.971 hektare dan luas panen 249.817 hektare.

Capaian tersebut menempatkan Indramayu sebagai salah satu daerah dengan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional, sebagai peringkat ke-7 dalam peningkatan produksi beras nasional serta atas dedikasi dan kontribusinya untuk mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. 

Namun, capaian tersebut juga diikuti kesadaran bahwa tantangan di sektor pertanian semakin kompleks. Pemerintah daerah mencatat sejumlah persoalan yang berpotensi memengaruhi stabilitas produksi ke depan, mulai dari keterbatasan tenaga kerja hingga dampak perubahan iklim.

Salah satu isu yang mengemuka adalah kondisi infrastruktur irigasi yang belum sepenuhnya optimal. Kerusakan dan sedimentasi di sejumlah jaringan aliran air disebut mulai mengganggu distribusi, terutama pada musim kemarau.

“Sebagian jaringan irigasi dilaporkan mengalami kerusakan atau sedimentasi, yang menghambat distribusi air secara efisien,” ujar Bupati Indramayu, Lucky Hakim dalam keterangannya tertulisnya dikutip Sabtu (02/05).

Situasi ini membuat pemerintah daerah menilai perlunya percepatan dukungan infrastruktur pertanian agar produktivitas tidak mengalami penurunan di masa mendatang.

Melalui surat permohonan yang disampaikan kepada Kementerian Pertanian, sejumlah kebutuhan prioritas diajukan. Di antaranya normalisasi Waduk Cipancuh, perbaikan beberapa bendung karet di wilayah Cantigi, Kandunghaur, dan Lohbener, serta kelanjutan modernisasi jaringan irigasi Rentang Kanan.

Selain itu, juga diajukan percepatan pengoperasian bendungan dan daerah irigasi strategis, pembangunan kanal untuk antisipasi rob di lahan pertanian Kandanghaur sepanjang 7,5 km, serta penguatan infrastruktur pendukung seperti 302 titik jalan usaha tani dan 200 titik irigasi perpompaan.

Usulan tersebut turut mencakup dukungan alat dan mesin pertanian modern, mulai dari drone, combine harvester, hingga mesin pengering gabah dan pompa air, yang diharapkan dapat mempercepat proses modernisasi pertanian di daerah tersebut.

Di tengah capaian produksi yang masih tinggi, upaya ini memperlihatkan satu hal penting, yakni menjaga Indramayu tetap sebagai lumbung pangan bukan hanya soal mempertahankan angka, tetapi juga memastikan infrastruktur dan sistem pendukungnya mampu mengikuti tekanan yang terus berkembang di sektor pertanian.

Related News