• 4 May 2026

Ecoprint, Seni Mengolah Daun yang Membuahkan Rupiah

Jagad Tani - Seni mengolah daun menjadi motif kain atau yang dikenal dengan "ecoprint" kini tidak hanya berkembang menjadi karya kreatif, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Hal ini dirasakan oleh Siti Nurhasanah, pelaku usaha ecoprint asal Cibinong, Bogor, lewat LQU Ecoprint, yang telah ditekuninya sejak tahun 2018. Hasil motifnya bisa ditemukan pada baju, tas, topi, hingga sepatu.

Baca juga: Bertani dari Ketinggian, Bukan di Dataran Tinggi

Ecoprint merupakan teknik mencetak motif pada kain dengan memanfaatkan bahan alami seperti daun dan bunga. Berbeda dengan teknik pewarnaan tekstil pada umumnya, ecoprint tidak menggunakan pewarna sintetis, melainkan mengandalkan pigmen alami yang dihasilkan langsung dari tanaman.

“Ecoprint itu seni cetak menggunakan daun asli. Setiap daun punya karakter warna yang berbeda, ada yang keluar oranye, hijau, bahkan ungu seperti daun jati,” ujar Siti kepada Jagad Tani.

Dalam praktiknya, tidak semua daun dapat menghasilkan warna. Karena itu, Siti memilih menanam sendiri beberapa jenis tanaman yang diketahui memiliki kandungan tanin tinggi agar menghasilkan warna alami yang kuat. Sementara itu, daun liar tetap bisa digunakan selama memiliki bentuk yang menarik secara visual.

Proses pembuatan ecoprint pun tidak sederhana. Kain harus melalui tahap awal berupa perendaman atau mordanting menggunakan bahan ramah lingkungan seperti tawas. Setelah itu, daun dan bunga disusun di atas kain lembap, digulung, lalu dikukus hingga dua jam untuk menghasilkan motif yang menempel secara alami.

Selain teknik, faktor selera konsumen juga berperan penting. Ada pelanggan yang menyukai motif daun besar, sementara yang lain lebih memilih daun kecil untuk menyesuaikan tampilan saat dikenakan.

Keunikan inilah yang menjadi nilai jual utama ecoprint. Setiap produk bersifat terbatas dan tidak bisa diproduksi secara massal dengan hasil yang sama persis. Kondisi ini justru meningkatkan daya tarik di pasar, terutama bagi konsumen yang menginginkan produk eksklusif.

Dari sisi bisnis, Siti mengaku usahanya cukup berkembang. Dalam kondisi tertentu seperti pameran yang berlangsung rutin, omzet yang diperoleh bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

“Kalau lagi bagus, dari pameran bisa sampai sekitar Rp30 juta. Karena memang produknya unik dan tidak pasaran,” katanya.

Ke depan, Siti berharap ecoprint dapat semakin dikenal luas, tidak hanya di pasar nasional tetapi juga internasional. Ia menilai ecoprint memiliki potensi untuk mengikuti jejak batik sebagai produk tekstil khas Indonesia yang mendunia.

Dengan perpaduan antara kreativitas, nilai ramah lingkungan, dan peluang ekonomi, ecoprint menjadi bukti bahwa daun yang sederhana pun bisa diolah menjadi karya bernilai tinggi sekaligus jadi sumber pundi-pundi rupiah.

Related News