• 6 May 2026

Pemulihan Lahan Sawah Pascabencana Aceh

uploads/news/2026/05/pemulihan-lahan-sawah-pascabencana-714113e4107b291.jpg

Jaga Tani - Percepatan rehabilitasi lahan pertanian pascabencana di Aceh diperlukan untuk menjaga ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi masyarakat.

Menurut Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, progres pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pascabencana, saat ini tengah berjalan di sejumlah kabupaten/kota, total anggaran yang dialokasikan Provinsi Aceh mencapai Rp380.033.300.000.

Baca juga: 

Anggaran tersebut mencakup berbagai kegiatan utama, mulai dari optimasi lahan (oplah), rehabilitasi lahan, hingga pembangunan infrastruktur pendukung seperti irigasi da???? jalan usaha tani.

“Saat ini fokus(nya) mempercepat seluruh tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan hingga konstruksi dan pengolahan lahan, agar lahan pertanian yang terdampak bencana dapat segera kembali produktif,” ujar M. Nasir.

Kegiatan optimasi lahan (oplah) untuk sawah dengan tingkat kerusakan ringan, dialokasikan anggaran sebesar Rp155.658.250.000 dalam bentuk bantuan. Kegiatan ini mencakup 16 kabupaten/kota dengan total luas 27.071 hektare.

Adapun tahap perencanaan (SID/DRT), yang dilaksanakan oleh Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Malikussaleh (UNIMAL), dan Universitas Samudra (UNSAM), telah mencapai progres 12.205 hektare atau sekitar 45% dari total target.

Kegiatan konstruksi oplah dengan anggaran sekitar Rp124.526.600.000 akan dilaksanakan setelah tahap perencanaan selesai, disusul dengan pengolahan lahan senilai Rp24.363.900.000. 

Untuk lahan dengan tingkat kerusakan sedang, disediakan anggaran Rp65.236.050.000, yang mencakup lima kabupaten dengan luas 4.393 hektare. Saat ini, progres konstruksi rehabilitasi sawah telah mencapai sekitar 3.981 hektare atau sebagian besar dari total target.

Di sektor irigasi, perpompaan, direncanakan pembangunan sebanyak 641 unit di 16 kabupaten/kota dengan anggaran Rp98.073.000.000. Saat ini, baru 70 unit atau sekitar 3,49% yang sedang dalam tahap pengerjaan, sementara sisanya masih dalam proses administrasi dan perencanaan.

Sementara itu, pembangunan irigasi perpipaan di 13 kabupaten/kota sebanyak 149 unit dengan anggaran Rp14.006.000.000 telah menunjukkan progres sekitar 24 persen. Adapun pembangunan bangunan konservasi sebanyak 45 unit dengan anggaran Rp5.400.000.000 masih dalam tahap persiapan.

Untuk jaringan irigasi tersier, dari total 300 unit yang direncanakan dengan anggaran Rp30.000.000.000, dan baru sekitar 8% dalam tahap pengerjaan. Selain itu, pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) sebanyak 106 unit dengan anggaran Rp11.660.000.000 juga masih dalam tahap awal, dengan progres sekitar 8%.

“Kami optimis, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, TNI, dan masyarakat, seluruh program ini dapat diselesaikan tepat waktu, sehingga lahan-lahan pertanian yang terdampak bencana dapat kembali dimanfaatkan secara optimal oleh petani,” pungkasnya.

Related News