• 6 May 2026

Catatan Petani tentang Beras Organik dan Non-Organik

uploads/news/2026/05/catatan-petani-tentang-beras-220998ce7de36fe.jpeg

Jagad Tani - Perbedaan beras organik dan non-organik tidak hanya terletak pada cara budidaya, tetapi juga berdampak pada hasil panen, cita rasa, hingga harga jual di pasaran.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Kelompok Tani Dewasa (KTD) Lemah Duhur, sekaligus Tokoh Pertanian Padi Organik Mulyaharja, Muhammad Aneng, yang berada di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Baca juga: Bertani dari Ketinggian, Bukan di Dataran Tinggi

Saat ditemui di area persawahan, pada Minggu (03/05) Aneng menjelaskan bahwa di lokasi tersebut terdapat berbagai jenis padi yang ditanam dengan metode organik dan non-organik, dengan varietas seperti Ciherang, Inpari 32, hingga Mantap.

Menurutnya, masing-masing varietas tersebut memiliki keunggulan yang berbeda-beda, terutama dari segi kualitas beras dan rasa nasi.  

“Kalau varietas Mantap itu nasinya lebih pulen. Ciherang dan Inpari 32 juga termasuk premium, kualitasnya bagus dan produksinya tinggi,” ujarnya kepada Jagad Tani.

Selain itu, masing-masing varietasnya juga dilakukan penanaman dengan menggunakan dua metode di atas. Dari sisi produktivitas, padi non-organik masih unggul. Dalam satu hektare lahan, hasil panen bisa mencapai 7 hingga 8 ton.

Sementara itu, untuk padi organik rata-rata menghasilkan sekitar 6 hingga 6,5 ton per hektare, meskipun kini mulai menunjukkan peningkatan.

Aneng mengungkapkan bahwa pada awal penerapan sistem organik, hasil panen sempat turun drastis. “Dulu pertama tanam organik, hasilnya bisa turun sampai hampir 50 persen. Dari biasanya 8 ton, jadi hanya sekitar 2,5 sampai 3 ton per hektare,” katanya.

Meski produksinya lebih rendah, beras organik memiliki keunggulan dari segi kualitas dan kesehatan. Selain itu, harga jualnya juga jauh lebih tinggi. Jika beras non-organik dijual sekitar Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram, beras organik bisa mencapai Rp22.000 per kilogram.

“Menurut konsumen, rasanya lebih enak dan lebih sehat. Tanahnya juga lebih gembur karena tidak pakai bahan kimia,” tambah Aneng.

Dalam praktiknya, baik padi organik maupun non-organik di kelompok tani tersebut tidak menggunakan pestisida kimia. Petani memanfaatkan pestisida nabati yang dibuat dari bahan alami seperti daun sirih, mimba, hingga bawang putih. Racikan ini diperoleh dari pelatihan yang difasilitasi oleh pihak akademisi seperti IPB.

Selain itu, masa tanam juga berbeda antar varietas. Varietas Mantap membutuhkan waktu sekitar 120 hari hingga panen, sementara Ciherang dan Inpari 32 relatif lebih cepat, yakni sekitar 105 hari, tergantung kondisi hama dan cuaca.

Aneng menilai, ke depan pertanian organik memiliki peluang besar, terutama karena meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat. Namun, ia juga menekankan pentingnya pendampingan bagi petani agar dapat menjaga produktivitas tetap stabil.

“Sekarang sudah mulai mengimbangi. Kalau terus dirawat, hasil organik bisa semakin baik,” pungkasnya.

Bahkan sejak tahun 2015, lahan pertanian padi yang dikelola KTD Lemah Duhur di kampung ciharashas seluas 3 Ha lolos inveksi dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) Inofice, yang menerapkan pertanian organik untuk menjaga kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan petani di Mulyaharja.

Related News