Menjaga Surga yang Tersisa di Kota Bogor
Jagad Tani - Hamparan sawah di Kelurahan Mulyaharja masih berdiri sebagai salah satu benteng terakhir pertanian di Kota Bogor, di tengah pesatnya pembangunan kota. Dari kawasan inilah, upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus kelestarian lingkungan terus digalakkan.
Bagi Muhammad Aneng, ketua Kelompok Tani Dewasa (KTD) Lemah Duhur, hamparan sawah di Mulyaharja bukan sekadar lahan produksi, melainkan warisan yang harus dijaga. Aneng percaya, tanah yang sehat akan memberi hasil yang berkelanjutan.
Baca juga: Catatan Petani tentang Beras Organik dan Non Organik
"Kalau kata yang beli (di sini), rasa (beras organiknya) lebih enak dan lebih sehat. (Manfaat ke) tanahnya juga (jadi) lebih gembur karena tidak pakai bahan kimia," ungkapnya kepada tim Jagad Tani Minggu (03/05) lalu.
Menurutnya, penerapan pertanian organik ini seperti kembali ke asal mula orang tua zaman dahulu ketika bertani. Bahkan dalam penanganan hama, bahan yang digunakan pun menggunakan pestisida nabati yang terbuat dari bahan-bahan alami di sekitar.
"Kalau penanganan hama, saya cuma menggunakan pestisida lokal saja, yang ada di sini, tidak menggunakan pestisida kimia. Saya menggunakan bahan-bahan seperti daun sirih, sirih wangi, bawang bodas (bawang putih), hingga daun mimba," jelasnya.
"Muhammad Aneng saat sedang membersihkan jerami di antara hamparan gabah. (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Setiap pagi, ia juga turun ke sawah, memastikan aliran air tetap terjaga dan tanaman tumbuh alami tanpa bahan kimia. Baginya, menjaga sawah berarti menjaga keseimbangan hidup.
“Kalau alam kita rawat, dia juga akan merawat kita,” ujar pria yang merupakan tokoh pertanian padi organik di Mulyaharja ini.
Adapun varietas beras yang ditanam berasal, dari berbagai varietas unggulan, mulai dari Inpari 32, Ciherang, Mantap, hingga Mekongga. Tempat ini pun akhirnya dikenal bukan hanya sebagai tempat bertani dan bercocok tanam, tapi juga menjadi lokasi eduwisata, sekaligus tempat penelitian para civitas akademika.
Hal ini terbukti saat tim Jagad Tani tiba di lokasi, di mana sejumlah dosen dan mahasiswa IPB sedang melakukan kegiatan panen untuk mengambil uji sampel perbandingan hasil panen antara varietas Mekongga, Mantap, serta varietas beras terbaru temuan IPB yakni IPB 13 S.
Varietas-varietas tersebut diuji dengan menggunakan metode organik dan non-organik untuk dilihat produktifitas dan efektifitasnya, sehingga nantinya bisa direkomendasikan untuk digunakan oleh para petani.
"Kang Mansyur (bertopi hijau) tampak sedang Ngagebot Pare bersama mahasiswa IPB. (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Sementara itu, menurut Muhammad Mansyurdin salah seorang anggota KTD Lemah Duhur, selain menjaga sistem pertanian berkelanjutan yang sudah terbentuk di kampung Ciharashas, tantangan ke depannya ialah soal regenerasi petani muda.
Ia melanjutkan bahwa, keterlibatan anak muda untuk bertani masih sangat minim, sehingga perlu gerakan massif untuk mengajak dan mengimbau anak-anak muda agar lebih banyak lagi yang ikut turun ke sawah.
"Ada sih anak-anak muda, cuma sedikit yang mau," terang pemuda yang akrab disapa Kang Mansyur ini. "Saya pun kalau saat ini memang tidak full time di sawah, tapi di hari-hari tertentu ketika libur kerja, saya selalu menyempatkan diri membantu orang tua."
Lebih lanjut, kesadaran dalam melihat situasi dan kondisi membuatnya terketuk untuk membantu orang tua ke sawah. "Soalnya kan orang tua saya sendiri juga sudah berumur, jadi siapa lagi yang bakal meneruskan kalau bukan kita (anak-anaknya)," sambungnya.
"Harapannya anak-anak muda di sini bisa lebih banyak terlibat turun ke sawah (untuk menjaga warisan pertanian yang sudah diturunkan)," imbuhnya.
Agus Faisal, penyuluh pertanian lapang (PPL) yang bertugas di empat kelurahan yakni Mulyaharja, Muara Sari (Kampung Buntar), Batu Tulis, dan Bondongan, aktif melakukan pendampingan kepada para petani.
Saat ditemui di KTD Lemah Duhur, Mulyaharja, ia tengah melakukan monitoring panen padi sekaligus pendataan hasil produksi.
“Kegiatan ini bagian dari luas tambah tanam, sekaligus memastikan hasil panen petani terdata dengan baik,” ujarnya.
"Tampak Umi (salah seorang petani di kampung Ciharashas) sedang menyusuri petakan sawah yang baru selesai dipanen. (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
KTD Lemah Duhur dinilai memiliki keunggulan yang jarang ditemui di wilayah perkotaan, yakni pengembangan padi organik yang telah berjalan sejak 2015. Tak hanya sekadar klaim, padi organik seluas 3 Ha lolos verifikasi dan telah mengantongi sertifikasi resmi dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) Inofice.
“Belum bisa disebut organik kalau belum tersertifikasi. Di sini sudah resmi, bahkan memiliki nomor seri. Luasnya sekitar 3 hektare, dan mungkin satu-satunya di Kota Bogor,” jelas Faisal.
Selain padi organik, sebagian lahan lainnya ditanami padi sehat non-organik yang tetap mengedepankan prinsip ramah lingkungan. Petani tidak menggunakan pestisida kimia, melainkan pestisida nabati, yang memadukan antara pupuk organik dan konvensional.
Konsep pertanian berkelanjutan menjadi nilai utama yang dipegang para petani. Seperti yang sering disampaikan Ketua KTD Lemah Duhur, Muhammad Aneng, “Kita jaga alam, alam jaga kita.”
Perbedaan karakter pertanian juga terlihat di wilayah binaan lainnya. Di Muara Sari, komoditas unggulan adalah pala. Sementara di Bondongan dan Batu Tulis, pertanian lebih mengarah pada urban farming dengan berbagai inovasi seperti wall garden, dengan memanfaatkan botol bekas dan wadah plastik untuk menanam sayuran.
Adapun di beberapa titik Mulyaharja lainnya, petani mengembangkan hortikultura dan palawija.
"Di KTD Alam Jaya Makmur, di Mulyaharja juga itu padi, tapi tidak banyak. Ada juga, tapi lebih ke sayuran, hortikultura dan palawija, singkong, kemudian ubi, dan lain-lain," tuturnya.
Keempat kelurahan tersebut juga mendapat dukungan melalui program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B), berupa bantuan bibit cabai, pisang, serta benih sayuran seperti jagung, kacang panjang, dan bayam.
"Pengambilan tangkai padi untuk proses Ngagebot Pare. (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Di tengah upaya pemerintah mendorong swasembada pangan, Faisal menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan lahan pertanian, terutama dari ancaman alih fungsi lahan.
“Lahan di sini tinggal sekitar 23 hektare dan harus dipertahankan. Ini bisa menjadi ‘surga yang tersisa’ di Kota Bogor,” katanya.
Ia juga melihat potensi besar kawasan ini sebagai destinasi edu-wisata padi organik, sekaligus sebagai pemasok beras organik bagi masyarakat.
“Kami berharap KTD Lemah Duhur terus berkelanjutan, tidak hanya untuk ketahanan pangan di Mulyaharja, tetapi juga menjadi bagian dari wisata dan kebanggaan Kota Bogor,” pungkasnya.

