• 11 May 2026

Hilirisasi Telur Didorong Jaga Harga Tingkat Peternak

uploads/news/2026/05/hilirisasi-telur-didorong-jaga-79016e06f2088eb.jpeg

Jagad Tani - Peningkatan serapan pasar dan hilirisasi produk peternakan jadi strategi untuk menstabilkan harga telur ayam ras di tingkat peternak, menyusul fluktuasi harga telur di sejumlah daerah, akibat tingginya pasokan dan melemahnya daya serap pasar beberapa pekan terakhir. 

Menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda, negara harus hadir menjaga peternak rakyat agar tetap mampu berusaha dan berkembang.

Baca juga: Harga Sapi Bali Kurban Mulai Rp21 Juta

“Kami memahami tekanan yang dirasakan peternak layer rakyat akibat fluktuasi harga telur. Negara harus hadir menjaga peternak rakyat agar tetap mampu berusaha dan berkembang,” ujar Agung dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin (11/05).

Lebih lanjut, Agung menilai bila pihaknya akan terus memperkuat koordinasi lintas instansi publik, guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan telur nasional.

“Kami terus mendorong penguatan serapan pasar, distribusi antardaerah, hilirisasi produk peternakan, serta optimalisasi pemanfaatan telur pada berbagai program pemenuhan gizi masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki kapasitas produksi telur yang kuat sebagai penopang ketahanan pangan nasional sehingga perlu dijaga melalui penguatan tata niaga dan distribusi.

“Produksi yang kuat adalah modal penting bangsa. Karena itu, yang perlu diperkuat adalah tata niaga, distribusi, dan hilirisasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh peternak rakyat,” tambahnya.

Selain penguatan serapan, Kementan juga terus memperluas hilirisasi produk peternakan guna meningkatkan nilai tambah dan membuka pasar baru bagi hasil produksi peternak rakyat. Langkah ini dinilai penting agar harga di tingkat peternak kembali bergerak lebih stabil.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH, Makmun, mengatakan hilirisasi menjadi strategi penting dalam menciptakan stabilitas usaha subsektor peternakan.

“Kami terus mendorong pengembangan produk olahan telur dan diversifikasi pemanfaatan hasil peternakan agar pasar semakin luas. Hilirisasi akan membantu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat stabilitas usaha peternak,” ujar Makmun.

Menurutnya, peningkatan konsumsi protein hewani juga menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan subsektor peternakan nasional. Dengan penguatan edukasi gizi dan perluasan pemanfaatan produk peternakan, peluang pasar ke depan akan semakin besar.

Di tengah dinamika harga tersebut, sejumlah asosiasi peternak memastikan kondisi di lapangan masih kondusif. Ketua Rumah Kebersamaan BKT NT Blitar, Eti, mengatakan aktivitas perdagangan telur di tingkat peternak tetap berjalan dengan mengacu pada harga yang telah disepakati bersama.

“Kondisi peternak ayam petelur di Blitar saat ini secara umum masih dalam situasi yang kondusif. Aktivitas perdagangan telur di tingkat peternak tetap berjalan dengan mengacu pada harga harmoni yang telah disepakati bersama,” terang Eti.

Eti menyebutkan jika harga telur saat ini memang masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni sebesar Rp26.500 per kilogram, akibat tingginya pasokan di tengah melemahnya daya serap pasar.

Hal serupa disampaikan Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal, Suwardi. Menurutnya, peternak di wilayah Kendal dan sekitarnya terus berupaya menjaga stabilitas harga di tingkat lapangan.

“Peternak layer di wilayah Kendal dan sekitarnya tetap berupaya menjaga situasi agar tetap kondusif, termasuk menjaga harga jual telur agar tidak terus mengalami penurunan,” ujar Suwardi.

Sementara itu, di Kabupaten Magetan, salah satu upaya peningkatan penyerapan telur melalui penambahan menu berbasis telur pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Related News