Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga untuk Tanaman
Jagad Tani - Lily Almasih memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi media tanam hingga pupuk organik di kebunnya yang berada di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Berbagai jenis sampah organik seperti daun-daunan, sisa sayur, hingga limbah dapur dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan bercocok tanamnya di rooftop rumah yang diberi nama Kebun Emeng.
Baca juga: Menjaga Surga yang Tersisa di Kota Bogor
Saat ditemui oleh tim Jagad Tani, Lily mengaku hampir seluruh media tanam di kebunnya berasal dari sampah organik yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar. Bahkan, ia rutin menerima limbah dapur dari tetangganya yang berjualan masakan Padang.
“Jujur aja di dalam media tanam saya ini pasti semuanya banyak sampahnya di dalamnya. Sampahnya tuh dari daun-daunan, sayur-sayuran,” ujar Lily.
Tak hanya dari tetangga, Lily juga kerap meminta sisa sayuran dari pasar maupun pedagang buah. Ibunya bahkan sering membawakan satu kantong besar berisi limbah sayur dari Pasar Kramat Jati untuk diolah di kebun.
Menurutnya, sampah organik yang sudah mulai membusuk biasanya langsung dimasukkan ke media tanam lalu ditimbun dengan tanah. Sementara limbah yang masih cukup segar, seperti batang pepaya dan batang singkong, dicacah terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke planter bag atau wadah bekas seperti galon.
“Nggak lama, seminggu juga biasanya sudah turun. Nanti saya tambahin lagi tanah, lalu langsung saya tanemin,” katanya.
Selain dijadikan kompos alami, Lily juga mengolah limbah sayur menjadi eco enzyme dan air lindi yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik. Limbah sayuran dimasukkan ke dalam galon hingga menghasilkan cairan yang kemudian ditampung untuk digunakan pada tanaman.
Meski demikian, saat musim hujan seperti sekarang, Lily mengaku lebih sering menggunakan pupuk kandang kambing untuk menjaga kesuburan tanaman. Sementara hasil olahan limbah cair tetap dikumpulkan untuk digunakan di waktu lain.
"Pokoknya yang udah banyak airnya, itu saya masukin galon. Nanti bawahnya kan keluar deh tuh airnya. Buat air lindinya gitu. Nah di situ nanti diambilin. Terus saya tampung di galon," terangnya.
Melalui kebiasaannya tersebut, Lily ingin menunjukkan bahwa limbah rumah tangga sebenarnya masih memiliki nilai manfaat jika dikelola dengan tepat. Selain membantu mengurangi sampah, cara ini juga mendukung pertanian ramah lingkungan di kawasan perkotaan.

