• 11 June 2026

Dinamika Iklim, Percepatan Tanam Sentra Padi Dipercepat

uploads/news/2026/06/dinamika-iklim-percepatan-tanam-7663660e7c28208.jpeg

Jagad Tani - Guna menghadapi berbagai dinamika iklim tahun 2026, salah satu langkah mitigasi menjaga produksi padi agar pasokan beras tetap aman di tengah potensi berkurangnya ketersediaan air di sejumlah daerah, yakni dengan melakukan percepatan luas tambah tanam (LTT).

Menurut Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) yang juga Pelaksana Harian Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Irham Warohian, percepatan LTT ini menjadi strategi mempertahankan produksi padi selama periode Juni-September yang identik dengan meningkatnya risiko kekeringan.

Baca juga: Harga Acuan Pembelian Telur Tingkat Peternak Rp26.500/Kg

“Peningkatan luas tambah tanam harus dilakukan secara terukur, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Dengan langkah percepatan tanam yang tepat, kita optimistis produksi padi tetap terjaga sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi,” ujar Irham dalam keterangan tertulisnya dikutip Kamis (11/06).

Percepatan tanam ini dilakukan di 10 provinsi sentra produksi padi nasional, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan. Kesepuluh wilayah ini dinilai mempunyai kontribusi terhadap produksi beras, sehingga menjadi prioritas dalam pengamanan produksi.

Guna mendukung percepatan tanam, koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina Patra Niaga, TNI, hingga instansi teknis, dan penguatan peran penyuluh pertanian lapangan (PPL).

Selain itu, percepatan penyaluran bantuan diintensifkan dengan Gerakan Tanam (Gertam), serta evaluasi distribusi pupuk bersubsidi guna memastikan kebutuhan petani terpenuhi tepat waktu dan tepat sasaran.

Dalam menghadapi ancaman kekeringan, pemetaan wilayah rawan terdampak dilakukan demi memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) untuk mendukung langkah mitigasi yang lebih cepat, dan diperkuat dengan optimalisasi sumber daya air, antara lain rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, sumur dangkal, pompanisasi, perpipaan, dan berbagai sumber air alternatif lainnya.

Di bidang teknologi budidaya, penggunaan varietas padi genjah dan toleran kekeringan seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Inpari, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, dan Cakrabuana yang disesuaikan dengan kondisi agroekosistem setempat. 

“Percepatan tanam adalah kunci menjaga kesinambungan produksi. Dengan kerja sama seluruh pihak, kita harus memastikan tidak ada lahan potensial yang menganggur dan setiap peluang tanam dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” tukas Irham.

Related News