Kopi Indonesia di Bangkok Raup Potensi Rp66Miliar
Jagad Tani - Pada saat ajang pameran kopi internasional World of Coffee Bangkok 2026 yang berlangsung di Bangkok, Tailan, bulan Mei lalu, Indonesia berhasil membukukan potensi transaksi sebesar USD3,89 juta atau setara Rp66 miliar (pada saat itu).
Adapun potensi transaksi tersebut berasal dari komitmen pembelian 337 ton kopi Indonesia dari eksportir Indonesia dengan 60 buyer potensial melalui Letter of Intent (LoI) dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Belanda, Brunei Darussalam, Filipina, Finlandia, India, Korea Selatan, Kanada, Mesir, Oman, Uni Emirat Arab, Tailan, dan Taiwan.
Baca juga: Indonesia Targetkan Jadi Eksportir Buah-Florikultura No.1 Dunia
“Pameran World of Coffee Bangkok menjadi sarana efektif untuk mempertemukan eksportir Indonesia dengan buyer potensial dari berbagai negara,” ungkap Rafika Arfani selaku atase Perdagangan di Bangkok, dalam keterangannya dikutip Rabu (17/06).
Melalui Paviliun Indonesia, yang merupakan hasil kerja sama antara Bank Indonesia, KBRI Bangkok, dan Kementerian Perdagangan melalui Atase Perdagangan mengusung tema “Kopi Indonesia”, dengan menampilkan 10 stan yang berlokasi di Booth No. 301, Blok F, Hall EH 99.
Konsep paviliun kali ini menggabungkan desain tempat penjemuran kopi sebagai ruang pamer produk dan area diskusi bisnis. Paviliun Indonesia juga dilengkapi demonstrasi barista (open barista) yang memungkinkan produsen menyajikan langsung kopi unggulan kepada calon buyer.
Ada sebanyak 20 pelaku usaha kopi yang berpartisipasi di Paviliun Indonesia, serta berasal dari berbagai daerah sentra kopi, seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, hingga Papua, dan telah mengikuti kurasi ketat dari total 189 calon peserta yang dilakukan Laboratorium Kopi 5758.
Sementara itu, menurut Duta Besar RI untuk Kerajaan Tailan, Hari Prabowo, potensi pasar kopi di Tailan terus berkembang dengan konsumsi kopi yang meningkat hampir dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, dari sekitar 180 cangkir menjadi 340 cangkir per kapita per tahun.
Di sisi lain, dijelaskan jika produksi kopi Tailan hanya sekitar 15.600 ton per tahun, jumlah yang masih jauh di bawah kebutuhan domestiknya yakni mencapai lebih dari 90.000 ton per tahun.
“Kondisi tersebut menjadikan Tailan sebagai pasar yang sangat prospektif bagi kopi Indonesia untuk memperluas penetrasi ekspor dan memperkuat posisinya di kawasan Asia Tenggara,” ungkap Hari.
Sedangkan I Komang Sukarsana, selaku pemilik dari Bali Arabica mengungkapkan pameran kopi berskala internasional ini jadi kesempatan memperluas jaringan bisnis, sekaligus memahami tren industri kopi global secara langsung, dan bisa terhubung ke berbagai rantai pasok kopi, mulai dari petani, pelaku usaha pengolahan, hingga roastery.
Saat ini, produk Bali Arabica telah dipasarkan ke sejumlah negara, seperti Kuwait, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Ia pun berharap ajang seperti World of Coffee dapat semakin memperkenalkan kopi Indonesia ke pasar internasional.
“Tujuan kami adalah membawa produk-produk lokal agar semakin dikenal masyarakat, khususnya masyarakat internasional,” terangnya.
Di lain sisi, Titis Budi Prihatin selaku perwakilan CV Mandiri Kopi asal Sumatera Utara, menjelaskan jika partisipasinya dalam pameran internasional dapat membuka peluang untuk menjangkau calon pembeli dari berbagai negara, dan memperluas jejaring bisnis di pasar global.
“Di Bangkok, kami melihat antusiasme masyarakat Tailan terhadap kopi sangat besar. Melalui pameran ini, kami dapat bertemu langsung dengan berbagai pelaku industri, mulai dari trader, roastery, hingga importir besar yang menunjukkan minat tinggi terhadap kopi-kopi Indonesia,” tukas Titis.

