• 23 June 2026

Lima Alasan Kepunahan Burung Dodo

uploads/news/2026/06/lima-alasan-kepunahan-burung-173345a0cdbf585.jpg

Jagad Tani - Burung dodo (Raphus Cucullatus) merupakan salah satu hewan endemic di Pulau Mauritius yang tidak bisa terbang, dan kini keberadaannya dinyatakan telah punah.

Burung ini pertama kali ditemukan oleh para penjelajah Eropa pada akhir abad ke-16 atau lebih tepatnya di tahun 1598. Bahkan, hanya dalam rentang waktu kurang dari satu abad semenjak ditemukan, yakni pada tahun 1662, populasi burung ini lenyap sepenuhnya.

Baca juga: Tips Pemberian Pakan Entok Siapan Tama Farm

Dikutip dari laporan tertulis National History Museum (NHM), kepunahan burung dodo terjadi karena proses perburuan oleh para penjelajah. Selain itu, hewan yang mereka bawa di kapal, seperti anjing, kucing, babi, dan tikus, juga turut berperan, tidak hanya membunuh burung-burung tersebut, tetapi kemungkinan juga memakan telur-telurnya.

Nah, apa sajakah penyebab kepunahannya, berikut beberapa alasan yang menyebabkan mengapa burung dodo punah:

1. Perburuan oleh Manusia
Pada poin pertama dari penyebab terjadinya kepunahan burung dodo yakni perburuan yang dilakukan oleh para penjelajah yang mendiami pulau Mauritius. Karena tidak memiliki rasa takut terhadap manusia, burung dodo menjadi sasaran yang mudah ditangkap. Meskipun dagingnya tidak selalu dianggap lezat, burung dodo sering diburu sebagai sumber makanan untuk bertahan hidup.

2. Masuknya Hewan Asing Invasif
Sebagaimana disinggung sebelumnya, para penjelajah yang datang ke pulau Mauritius tersebut membawa berbagai hewan invasif seperti tikus, anjing, kucing, dan babi di dalam kapal. Sehingga saat kapal bersandar, hewan-hewan tersebut ikut turun dan karena kekurangan sumber pangan, lambat laun hewan yang turun ini turut memangsa telur dan anak burung dodo yang berada di sarang. Karena burung dodo lambat dalam berkembang biak, maka kehilangan telur dan anak-anaknya juga turut memengaruhi jumlah populasi dan regenerasinya.

3. Kerusakan Habitat
Melalui tulisan yang berjudul “Dunia Hewan: Seperti Apa Bentuk Burung Dodo dan Mengapa Mereka Punah?” di National Geographic dituliskan bahwa para pendatang ini mengeksploitasi sumber daya alam di pulau tersebut, sehingga merugikan burung dodo serta spesies dan tanaman endemik lainnya. Kedatangan penjelajah ini menyebabkan perubahan besar pada lingkungan alami burung dodo, di mana hutan-hutan yang selama ini menjadi sumber makanan serta tempat berlindung yang aman, justru dibuka untuk lahan pemukiman. “Burung ini juga mengonsumsi kacang-kacangan, buah-buahan, akar-akaran, dan serangga kecil,” terang Carl Seaver di laman History Defined.

4. Ketidakmampuan untuk Terbang
Burung dodo yang semasa hidupnya di pulau Mauritius hampir tidak memiliki predator alami, menyebabkan mereka akhirnya berevolusi dan kehilangan kemampuan terbang karena telah beradaptasi dengan hidup di darat. Akibatnya, ketika manusia dan hewan predator diperkenalkan ke pulau tersebut, burung dodo tidak memiliki kemampuan untuk melarikan diri dengan cepat, sehingga menjadi sangat rentan terhadap ancaman baru.

5. Tingkat Reproduksi yang Lambat
Para ilmuwan memperkirakan bahwa burung dodo hanya bertelur dalam jumlah sedikit setiap musim berkembang biak. Dalam catatan Live Science, sebuah studi tahun 2016 di Journal of Vertebrate Paleontology, setiap telur yang dimakan mewakili satu-satunya kesempatan burung dodo betina untuk bereproduksi tahun itu. Dengan tingkat reproduksi yang rendah, populasi burung dodo tidak mampu menggantikan individu yang mati akibat perburuan, serangan predator, maupun hilangnya habitat. Kondisi ini mempercepat proses kepunahan.

Kepunahan burung dodo ini tentunya tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan kombinasi berbagai tekanan yang muncul setelah kedatangan manusia di Mauritius. Perburuan, masuknya hewan predator, kerusakan habitat, ketidakmampuan untuk terbang, dan rendahnya tingkat reproduksi menjadi lima alasan punahnya spesies ini dari muka bumi.

Tentunya kisah kepunahan dari burung dodo ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana perlunya bagi kita untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta melindungi keanekaragaman hayati di dalamnya agar tragedi seperti ini tidak terulang pada spesies lain.

Related News