• 24 June 2026

Kelapa Parut Gorontalo Tembus Pasar Jerman

uploads/news/2026/06/kelapa-parut-gorontalo-tembus-6226703d075a0f2.jpeg

Jagad Tani - Sebanyak 26 ton komoditas kelapa parut (Desiccated coconut) asal Gorontalo, resmi diberangkatkan ke Jerman melalui Satuan Pelayanan Bandara Djalaluddin, Karantina Gorontalo, dengan nilai Rp1,2 miliar, pada Selasa (23/06) dan berhasil menembus ketatnya persaingan masuk ke pasar Uni Eropa.

Menurut Kepala Karantina Gorontalo, Iswan Hariyanto, keberhasilan komoditas kelapa parut Gorontalo dalam menembus pasar Jerman yang merupakan bagian dari wilayah Uni Eropa dan terkenal dengan ketatnya aturan keluar masuk barang, menjadi indikator jika mutu produk lokal telah diakui dunia.

Baca juga: Pertanian Berbasis Teknologi Bisa Jawab Masalah Pesisir

"(Selain itu) Karantina Gorontalo akan terus memperkuat pengawasan sekaligus memberikan pendampingan kepada pelaku usaha agar volume ekspor terus meningkat," jelas Iswan sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulisnya di laman resmi Barantin, dikutip Rabu (24/06).

Berdasarkan data Badan Karantina Indonesia (Barantin), kinerja ekspor Provinsi Gorontalo sepanjang Januari–Mei 2026 menunjukkan tren positif. Nilai ekspor-nya mencapai Rp643,72 miliar, atau tumbuh 10,76% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara dari sisi volume, terjadi lonjakan sebesar 21,55% menjadi 149,50 juta kilogram dengan frekuensi pengiriman mencapai 477 kali.?

Selain diekspor ke Jerman, sejumlah komoditas unggulan dari Gorontalo juga turut dikirimkan untuk pasar domestik, yakni menuju Jakarta di waktu yang bersamaan. Komoditas tersebut meliputi 25 ton jagung senilai Rp151 juta dan 16 ton ikan bandeng senilai Rp224 juta. Secara total, komoditas yang dilepas hari ini mencapai 67 ton dengan nilai ekonomi Rp1,575 miliar.

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, turut menjelaskan jika layanan Barantin berfokus pada empat pilar utama sertifikasi: kesehatan, keamanan, pemenuhan mutu, dan ketertelusuran (traceability) produk, yang didukung oleh inspeksi berbasis sains (science-based inspection) serta digitalisasi.

?Menurut Karding, momentum pengiriman komoditas kelapa parut ini dinilai menjadi bukti nyata mengenai keberhasilan transformasi ekonomi daerah dari pengiriman bahan mentah menjadi pengiriman produk olahan bernilai tambah tinggi, sehingga mendorong kemandirian ekonomi melalui hilirisasi dan industrialisasi.

?"Kami berkomitmen memberikan karpet merah ekspor melalui pendampingan teknis sehingga produk Indonesia dapat memenuhi standar internasional, termasuk standar ketat negara-negara Uni Eropa," tukas Karding.

 

Related News